Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Maret 2010
Hikayat tentang tiga orang gadis bersaudara, (Bagian Ke 2)
20.09 | Diposting oleh
Unknown
Hikayat tentang tiga orang gadis bersaudara, (Bagian Ke 2)
‘Hai orang shaleh, apa maksudmu?’ Tanya mereka
‘Selama tiga hari berturut-turut belakangan ini, aku berada di tempat ini dan mendengar suara godam serta rantai yang mengerikan.’ Jawabku.
‘Kami tahu ayah kami dibakar di neraka. Itulah yang membuat kami gusar dan hidup serba tidak tenang. Tetapi, kami akan terus memohon kepada Allah mudah-mudahan Dia berkenan membebaskan ayah kami dari neraka.’ Kata mereka yang langsung pergi begitu saja.
‘Hai orang shaleh, apa maksudmu?’ Tanya mereka
‘Selama tiga hari berturut-turut belakangan ini, aku berada di tempat ini dan mendengar suara godam serta rantai yang mengerikan.’ Jawabku.
‘Kami tahu ayah kami dibakar di neraka. Itulah yang membuat kami gusar dan hidup serba tidak tenang. Tetapi, kami akan terus memohon kepada Allah mudah-mudahan Dia berkenan membebaskan ayah kami dari neraka.’ Kata mereka yang langsung pergi begitu saja.
Hikayat tentang tiga orang gadis bersaudara, ( Bagian ke 1)
19.57 | Diposting oleh
Unknown
Hikayat tentang tiga orang gadis bersaudara, ( Bagian ke 1)
“Ketika saya menulis sesuatu yang mungkin mengandung sebuah nasehat, maka hal itu bukanlah bermaksud untuk menggurui apalagi untuk menghujat serta mencela sesuatu, melainkan hal itu bertujuan untuk mengingatkan diriku sendiri dan keluargaku serta sesama saudarayang seiman dan seagama”
Hikayat ini telah banyak di ceritakan dan diriwayatkan oleh para ulama dan orang-orang shaleh, seperti oleh Abu Muhammad alias Abdul Haq dalam bukunya Al-Aqibat dan Uyun al-Akbar. Hikayat ini sendiri saya tuliskan kembali dari buku Rahasia Kematian, Alam Akhirat dan Kiamat karya Imam Al-Qurthubi yang diterjemahkan oleh Abdur Rosyad Shiddiq.
Diriwayatkan oleh al-Haris bin Nabhan,
“suatu hari aku menuju ke sebuah pemakaman, setelah mendoakan mereka, aku duduk termenung dan memikirkan para penghuni kubur yang ada di sekitarku, aku melihat mereka semua juga diam tak berbicara. Mereka bertetangga, tapi satu sama lain tidak saling mengunjungi. Mereka tinggal di perut bumi.
Kamis, 04 Maret 2010
Ketabahan seorang wanita
03.37 | Diposting oleh
Unknown
www.satuiku.com Sebuah hikayat yang mungkin bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua tentang arti sebuah kesabaran, sabar terhadap apa yang di tetapkan oleh ALLAH SWT.
Di riwayatkan Alyafi'I dari Abul Hasan Assaraj berkata: ketika saya keluar berhaji ka baitillahil haram, di waktu tawaf tiba-tiba melihat wanita yang bersinar wajahnya, sehingga saya katakan "demi ALLAH belum pernah saya melihat wajah secantik dan secerah itu, tidak lain itu pasti karena tidak pernah merasa risau dan sedih hati" tiba-tiba wanita itu mendengar kata-kataku, lalu ia bertanya
"Apakah katamu hai orang laki?, demi ALLA saya tetap terbelenggu oleh duka cita, dan luka hati karena risau, tiada seorangpun yang menyekutuiku dalam hal ini"
Maka aku bertanya "bagaimanakah itu?"
Jawabnya "pada suatu hari ketika suamiku menyembelih kambing korban (udhiyah), dan pada waktu itu saya mempunyai dua orang anak yang sudah bermain-main dan yang satu masih menetek, dan ketika aku bangun untuk membuatkan makanan, tiba-tiba putraku yang agak besar berkata kepada adiknya: Sukakah saya tunjukan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing? Jawab adiknya: baiklah. Lalu di terlentangkan dan di sembelih adiknya. Kemudian ia merasa ketakutan dan lari ke bukit yang mana disana ia dimakan serigala, lalu ayahnya pergi mencari putranya hingga mati kehausan, dan ketika saya taruh bayiku dan saya tinggal keluar pintu untuk melihat bagaimana keadaan ayahnya, tiba-tiba bayi itu merangkak menuju ke kuali yang sedang mendidih dan di tarik akhirnya tertumpah kuali yang sedang mendidih itu ke badannya sehingga terkupas dagingnya, kemudian berita ini sampai pada putriku yang telah kawin, maka ia jatuh pingsan dan bertepatan ajalnya, sehingga aku tinggal sebatang kara diantara mereka semua."
Lalu saya tanya: "dan bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang hebat itu?"
Jawabnya: " Tiada seorang yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan diantara keduanya ada jalan yang berbeda, adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir maka itu baik dan terpuji akibatnya, adapun mengeluh maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka".
Di kutip dari "Irsyadul 'ibad ilasabilirrasyad"
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
Hikmah
|
3
komentar
Senin, 01 Maret 2010
hati mereka seperti hati burung
07.08 | Diposting oleh
Unknown
www.satuiku.com
Dari Abu Hurairoh radiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Akan masuk surga suatu kaum, hati mereka seperti hati burung” (HR. Muslim) maknanya adalah dalam merealisasikan tawakal.
Lantas seperti apa hati burung? Hal ini dijelaskan oleh hadits dari sahabat Umar bin khotob radiyallahu’anhu, bahwasannya beliau mendengar Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (shahih Tirmidzi, beliau berkata, ‘hadits hasan sohih)
Mengomentari hadits tersebut, Ibnu Rajab rohimahullah berkata di dalam kitabnya Jami’ul ‘ulum wal Hikam, “Hadits ini adalah dasar atau asas di dalam bertawakal, hal terebut juga merupakan diantara sebab yang paling besar dalam memperoleh rizki,” Oleh karena itu, kita tidak pernah mendengar seekor burung pada pagi hari terbentur dengan masalah rizki, lalu dia benturkan kepalanya ke tiang listrik. Itu tidak terjadi pada burung, tapi pada manusia hal tersebut terjadi dan sering kita dengar di berita atau dia media massa.
Di dalam realitanya, merealisasikan hakikat tawakal di dalam hati kita bukan merupakan perkara yang mudah, dia adalah ibadah hati yang sangat agung, dia merupakan sumber kebaikan. Darinya timbul berbagai macam ibadah hati yang lainnya. Bahkan hakikat agama adalah tawakal dan inabah (kembali kepada Allah). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah : 5) Tawakal adalah isti’anah (minta pertolongan) dan inabah adalah ibadah.
Hilangnya berbagai kebaikan, luputnya kita dari amal yang besar, buruknya ibadah kita – karena tidak hadirnya rasa cinta, harap dan takut – adalah karena masih jauhnya kita dari hakikat tawakal. Bahkan kegelisahan dan ketakutan yang menimpa sebagian kaum muslimin adalah dikarenakan belum hadirnya tawakal di dalam qalbunya.
Berikut ini nukilan kami dari berbagai perkataan ulama tentang definisi dan hakikat tawakal. Mudah-mudah yang sedikit ini–dengan taufik dari Allah- bisa membantu kita merealisasikannya. Amin
Definisi Tawakal
Imam Ibnu Rajab rahimahulloh berkata, “Hakekat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akherat”
Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.
Bertawakallah Hanya Kepada Allah
Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar bertawakal hanya kepada-Nya dalam banyak ayat. Diantaranya ayat (yang artinya), “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (Al-Maidah : 23) “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. At-Tholaq : 3)
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab….mereka adalah orang-orang yang tidak minta ruqyah, tidak menyandarkan kesialan kepada burung dan sejenisnya, tidak berobat dengan besi panas dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka” (HR. Muslim)
Tawakal kepada Allah adalah syarat sahnya keislaman dan keimanan seseorang. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu benar-benar orang-orang beriman” (Al-Maidah :3) dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Musa berkata, ‘wahai kaumku ! apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kalian kepada-Nya jika kamu benar-benar orang muslim (berserah diri)” (QS. Yunus : 84)
Maka tawakal merupakan ibadah yang sangat agung. tawakal adalah murni ibadah hati, oleh karena itu mengesakan Allah Ta’ala dalam tawakal adalah merupakan kewajiban, dan memalingkannya kepada selain Allah merupakan kesyirikan. Wal’iyadzubillah.
“Sungguh kita tidak bisa terlepas dari-Nya sekejap mata pun. Jika kita bersandar kepada diri sendiri, maka kita telah meyerahkan diri kita kepada kelemahan yang rendah dan serba kurang, khilaf dan kesalahan. Dan jika kita bersandar kepada orang lain maka kita telah mempercayakan diri kepada yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan bahaya dan manfaat, serta tidak mampu mematikan dan menghidupkan serta membangkitkan dan mengumpulkan kembali”. Itulah nukilan dari perkataan Ibnul Qayim rahimahullah didalam kitabnya alfawaid. wallahu ‘alam. Maka bertawakallah wahai hamba Allah kepada Dzat yang ditangan-Nya segala urusan dan yang memiliki segalanya.
Bertawakal Kepada Selain Allah
Bertawakal kepada selain Allah ada tiga keadaan :
1) Syirik akbar (besar). Yaitu seorang bertawakal kepada selain Allah Ta’ala dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah Ta’ala tidak selain-Nya. Contoh : seseorang bertawakal kepada makhluk /wali di dalam memperoleh kebaikan atau bertawakal kepada makhluk dengan hatinya Karena ingin mempunyai anak atau pekerjaan, sedang makhluk tersebut tidak mampu memenuhi keinginannya tersebut.
2) Syirik kecil. Yaitu seseorang bertawakal kepada selain Allah dalam perkara dimana Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepada makhluk tersebut untuk memenuhinya. Contoh : seorang istri bertawakal kepada suami dalam kebutuhan hariannya. (peringatan: syirik walaupun kecil, pelakunya tetap diancam neraka hingga ia bertaubat)
3) Boleh. Yaitu seseorang bertawakal kepada selain Allah dalam arti mewakilkan urusannya kepada seseorang tanpa disertai penyandaran hati. Contoh : menyerahkan kendali perusahaan kepada seorang menejer. seperti Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan kepada Ali radiyallahu’anhu untuk menyembelih qurbannya dan mewakilkan kepada Abu Hurairoh radiyallahu’anhu dalam masalah sodaqoh.
Menghadirkan Tawakal
“Tawakal kepada Allah Ta’ala merupakan ibadah yang dituntut dari seorang mu’min Kekuatan tawakal seseorang kepada Allah Ta’ala kembali kepada pemahamannya tentang rububiyah Allah Ta’ala dan keimanannya yang mendalam terhadap tauhid rububiyah. Maka untuk menghadirkan dan memunculkan tawakal di dalam hati kembali kepada perenungan terhadap atsar-atsar dari rububiyah Allah Ta’ala. Semakin banyak seorang hamba merenung dan memperhatikan kekuasaan dan kerajaan Allah di langit dan di bumi, pengetahuannya bahwa Allah adalah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, bahwasannya hanya Dia yang mengatur dan menjalankannya dan pertolongan Allah kepada hamba-Nya merupakan sesuatu yang mudah dibandingkan dengan pengaturan alam semesta ini, maka akan semakin besar pengagungannya kepada Allah, semakin kuat pula tawakalnya kepada Allah Ta’ala, ia pun mengagungkan perintah-Nya (dengan melaksanakannya), dan mengagungkan larangan-Nya (dengan menjauhinya), dan ia pun meyakini tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan-Nya dan tidak ada yang sulit bagi-Nya. “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya” (QS. Ath-Tholaq : 3)” Itulah nukilan perkataan Syekh Sholih Alu Syaikh di dalam kitabnya at-tamhid syarah kitab tauhid. walahu’alam
Penjelasannya, apabila seorang hamba mengilmui tentang keesaan Allah dalam hal menolak bahaya dan mendatangkan manfaat, dalam hal memberi dan menahan, dalam hal mencipatakan dan memberi rizki, dalam hal menghidupakan dan mematikan (dan ini semua adalah rububiyah Allah), maka itu akan membuahkan ubudiyah tawakal kepada-Nya semata secara batin, dan konsekwensi tawakal dan buahnya secara lahiriyah.
Tawakal Bukan Hanya Pasrah
Kadang seseorang salah kaprah dalam memaknai tawakal, ia menganggap bahwa tawakal adalah legowo (menerima total) keadaan tanpa ada upaya perubahan, namun perlu diketahui bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha atau sebab, karena melakukan atau mengambil sebab merupakan kesempurnaa tawakal. Akan tetapi tidak boleh bersandar kepada sebab tersebut. Syekhul islam Abul Abbas rohimahullah berkata, “Meninggalkan sebab adalah celaan terhadap syari’at dan bersandar kepada sebab adalah syirik”. Murid beliau Syamsudin Abu Abdillah rahimahullah berkata, “Pelanggaran terbesar terhadap syari’at adalah meninggalkan sebab karena menyangka bahwa mengambil sebab akan menafikan tawakal”
yang lain berkata, “Mengandalkan sebab adalah celaan terhadap tawakal dan tauhid, sedangkan meninggalkan sebab merupakan celaan terhadap syari’at dan hikmah Allah” karena Allah telah menjadikan segala sesuatu ada sebab dan akibatnya. Maka kita katakan, “Di dalam bertawakal harus terpenuhi dua syarat : pertama, menyerahkan seluruh perkara kepada Allah Ta’ala yang di tangan-NYalah segala urusan. Kedua, tidak boleh bersandar kepada sebab yang dilakukannya. Hati dan batinnya bersandar total kepada Allah Ta’ala, sedangkan anggota badannya menjalani sebab. Dengan itu diketahui bahwa tawakal adalah murni ibadah hati. Barang siapa yang memalingkannya kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik, walaupun dia meyakini bahwa Allah Ta’ala satu-satunya yang menciptakan dan memberi rizki.
Hadits berikut lebih memperjelas: Dari Umar bin Khotob radiyallahu’anhu, ROsulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (Shohih Tirmidzi)
Tawakal burung adalah dengan pergi mencari makanan, maka Allah jamin dengan memberikan makanan kepada mereka. Burung-burung itu tidak tidur saja di sarangnya sambil menunggu makanan datang, tetapi pergi jauh mencari makanan untuk dirinya dan anak-anaknya.
Ketahuilah, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bertawakal kepada Allah, namun belian melakukan usaha. Ketika perang uhud beliau memakai dua baju besi dan ketika hijrah ke madinah beliau menyewa penunjuk jalan, beliau juga berlindung dari panas dan dingin, tapi hal tersebut tidak mengurangi tawakalnya kepada Allah Ta’ala.
Jadi, mengambil sebab yang disyari’atkan menunjukan kesempurnaan tawakal dan kekuatannya, dan meninggalkan sebab menunjukan kebodohannya terhadap syari’at rabbnya. Barangsiapa yang membaca kisah-kisah para Nabi, terkhusus Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya akan melihat bahwasannya mereka adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah Ta’ala, bersamaan dengan itu mereka juga mengambil sebab dan meyakini bahwa hal tersebut merupakan kesempurnaan tawakal kepada Allah.
Penulis: Husni Ridho (Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)
Artikel www.muslim.or.id
Powered by Telkomsel BlackBerry® & Nokia E71
Dari Abu Hurairoh radiyallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Akan masuk surga suatu kaum, hati mereka seperti hati burung” (HR. Muslim) maknanya adalah dalam merealisasikan tawakal.
Lantas seperti apa hati burung? Hal ini dijelaskan oleh hadits dari sahabat Umar bin khotob radiyallahu’anhu, bahwasannya beliau mendengar Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (shahih Tirmidzi, beliau berkata, ‘hadits hasan sohih)
Mengomentari hadits tersebut, Ibnu Rajab rohimahullah berkata di dalam kitabnya Jami’ul ‘ulum wal Hikam, “Hadits ini adalah dasar atau asas di dalam bertawakal, hal terebut juga merupakan diantara sebab yang paling besar dalam memperoleh rizki,” Oleh karena itu, kita tidak pernah mendengar seekor burung pada pagi hari terbentur dengan masalah rizki, lalu dia benturkan kepalanya ke tiang listrik. Itu tidak terjadi pada burung, tapi pada manusia hal tersebut terjadi dan sering kita dengar di berita atau dia media massa.
Di dalam realitanya, merealisasikan hakikat tawakal di dalam hati kita bukan merupakan perkara yang mudah, dia adalah ibadah hati yang sangat agung, dia merupakan sumber kebaikan. Darinya timbul berbagai macam ibadah hati yang lainnya. Bahkan hakikat agama adalah tawakal dan inabah (kembali kepada Allah). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah : 5) Tawakal adalah isti’anah (minta pertolongan) dan inabah adalah ibadah.
Hilangnya berbagai kebaikan, luputnya kita dari amal yang besar, buruknya ibadah kita – karena tidak hadirnya rasa cinta, harap dan takut – adalah karena masih jauhnya kita dari hakikat tawakal. Bahkan kegelisahan dan ketakutan yang menimpa sebagian kaum muslimin adalah dikarenakan belum hadirnya tawakal di dalam qalbunya.
Berikut ini nukilan kami dari berbagai perkataan ulama tentang definisi dan hakikat tawakal. Mudah-mudah yang sedikit ini–dengan taufik dari Allah- bisa membantu kita merealisasikannya. Amin
Definisi Tawakal
Imam Ibnu Rajab rahimahulloh berkata, “Hakekat tawakal adalah hati benar-benar bergantung kepada Allah dalam rangka memperoleh maslahat (hal-hal yang baik) dan menolak mudhorot (hal-hal yang buruk) dari urusan-urusan dunia dan akherat”
Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala dan menempuh sebab (sebab adalah upaya dan aktifitas yang dilakukan untuk meraih tujuan) yang diizinkan syari’at.
Bertawakallah Hanya Kepada Allah
Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar bertawakal hanya kepada-Nya dalam banyak ayat. Diantaranya ayat (yang artinya), “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (Al-Maidah : 23) “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. At-Tholaq : 3)
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab….mereka adalah orang-orang yang tidak minta ruqyah, tidak menyandarkan kesialan kepada burung dan sejenisnya, tidak berobat dengan besi panas dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka” (HR. Muslim)
Tawakal kepada Allah adalah syarat sahnya keislaman dan keimanan seseorang. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu benar-benar orang-orang beriman” (Al-Maidah :3) dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Musa berkata, ‘wahai kaumku ! apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kalian kepada-Nya jika kamu benar-benar orang muslim (berserah diri)” (QS. Yunus : 84)
Maka tawakal merupakan ibadah yang sangat agung. tawakal adalah murni ibadah hati, oleh karena itu mengesakan Allah Ta’ala dalam tawakal adalah merupakan kewajiban, dan memalingkannya kepada selain Allah merupakan kesyirikan. Wal’iyadzubillah.
“Sungguh kita tidak bisa terlepas dari-Nya sekejap mata pun. Jika kita bersandar kepada diri sendiri, maka kita telah meyerahkan diri kita kepada kelemahan yang rendah dan serba kurang, khilaf dan kesalahan. Dan jika kita bersandar kepada orang lain maka kita telah mempercayakan diri kepada yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan bahaya dan manfaat, serta tidak mampu mematikan dan menghidupkan serta membangkitkan dan mengumpulkan kembali”. Itulah nukilan dari perkataan Ibnul Qayim rahimahullah didalam kitabnya alfawaid. wallahu ‘alam. Maka bertawakallah wahai hamba Allah kepada Dzat yang ditangan-Nya segala urusan dan yang memiliki segalanya.
Bertawakal Kepada Selain Allah
Bertawakal kepada selain Allah ada tiga keadaan :
1) Syirik akbar (besar). Yaitu seorang bertawakal kepada selain Allah Ta’ala dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah Ta’ala tidak selain-Nya. Contoh : seseorang bertawakal kepada makhluk /wali di dalam memperoleh kebaikan atau bertawakal kepada makhluk dengan hatinya Karena ingin mempunyai anak atau pekerjaan, sedang makhluk tersebut tidak mampu memenuhi keinginannya tersebut.
2) Syirik kecil. Yaitu seseorang bertawakal kepada selain Allah dalam perkara dimana Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepada makhluk tersebut untuk memenuhinya. Contoh : seorang istri bertawakal kepada suami dalam kebutuhan hariannya. (peringatan: syirik walaupun kecil, pelakunya tetap diancam neraka hingga ia bertaubat)
3) Boleh. Yaitu seseorang bertawakal kepada selain Allah dalam arti mewakilkan urusannya kepada seseorang tanpa disertai penyandaran hati. Contoh : menyerahkan kendali perusahaan kepada seorang menejer. seperti Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan kepada Ali radiyallahu’anhu untuk menyembelih qurbannya dan mewakilkan kepada Abu Hurairoh radiyallahu’anhu dalam masalah sodaqoh.
Menghadirkan Tawakal
“Tawakal kepada Allah Ta’ala merupakan ibadah yang dituntut dari seorang mu’min Kekuatan tawakal seseorang kepada Allah Ta’ala kembali kepada pemahamannya tentang rububiyah Allah Ta’ala dan keimanannya yang mendalam terhadap tauhid rububiyah. Maka untuk menghadirkan dan memunculkan tawakal di dalam hati kembali kepada perenungan terhadap atsar-atsar dari rububiyah Allah Ta’ala. Semakin banyak seorang hamba merenung dan memperhatikan kekuasaan dan kerajaan Allah di langit dan di bumi, pengetahuannya bahwa Allah adalah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, bahwasannya hanya Dia yang mengatur dan menjalankannya dan pertolongan Allah kepada hamba-Nya merupakan sesuatu yang mudah dibandingkan dengan pengaturan alam semesta ini, maka akan semakin besar pengagungannya kepada Allah, semakin kuat pula tawakalnya kepada Allah Ta’ala, ia pun mengagungkan perintah-Nya (dengan melaksanakannya), dan mengagungkan larangan-Nya (dengan menjauhinya), dan ia pun meyakini tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan-Nya dan tidak ada yang sulit bagi-Nya. “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya” (QS. Ath-Tholaq : 3)” Itulah nukilan perkataan Syekh Sholih Alu Syaikh di dalam kitabnya at-tamhid syarah kitab tauhid. walahu’alam
Penjelasannya, apabila seorang hamba mengilmui tentang keesaan Allah dalam hal menolak bahaya dan mendatangkan manfaat, dalam hal memberi dan menahan, dalam hal mencipatakan dan memberi rizki, dalam hal menghidupakan dan mematikan (dan ini semua adalah rububiyah Allah), maka itu akan membuahkan ubudiyah tawakal kepada-Nya semata secara batin, dan konsekwensi tawakal dan buahnya secara lahiriyah.
Tawakal Bukan Hanya Pasrah
Kadang seseorang salah kaprah dalam memaknai tawakal, ia menganggap bahwa tawakal adalah legowo (menerima total) keadaan tanpa ada upaya perubahan, namun perlu diketahui bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha atau sebab, karena melakukan atau mengambil sebab merupakan kesempurnaa tawakal. Akan tetapi tidak boleh bersandar kepada sebab tersebut. Syekhul islam Abul Abbas rohimahullah berkata, “Meninggalkan sebab adalah celaan terhadap syari’at dan bersandar kepada sebab adalah syirik”. Murid beliau Syamsudin Abu Abdillah rahimahullah berkata, “Pelanggaran terbesar terhadap syari’at adalah meninggalkan sebab karena menyangka bahwa mengambil sebab akan menafikan tawakal”
yang lain berkata, “Mengandalkan sebab adalah celaan terhadap tawakal dan tauhid, sedangkan meninggalkan sebab merupakan celaan terhadap syari’at dan hikmah Allah” karena Allah telah menjadikan segala sesuatu ada sebab dan akibatnya. Maka kita katakan, “Di dalam bertawakal harus terpenuhi dua syarat : pertama, menyerahkan seluruh perkara kepada Allah Ta’ala yang di tangan-NYalah segala urusan. Kedua, tidak boleh bersandar kepada sebab yang dilakukannya. Hati dan batinnya bersandar total kepada Allah Ta’ala, sedangkan anggota badannya menjalani sebab. Dengan itu diketahui bahwa tawakal adalah murni ibadah hati. Barang siapa yang memalingkannya kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik, walaupun dia meyakini bahwa Allah Ta’ala satu-satunya yang menciptakan dan memberi rizki.
Hadits berikut lebih memperjelas: Dari Umar bin Khotob radiyallahu’anhu, ROsulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang” (Shohih Tirmidzi)
Tawakal burung adalah dengan pergi mencari makanan, maka Allah jamin dengan memberikan makanan kepada mereka. Burung-burung itu tidak tidur saja di sarangnya sambil menunggu makanan datang, tetapi pergi jauh mencari makanan untuk dirinya dan anak-anaknya.
Ketahuilah, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling bertawakal kepada Allah, namun belian melakukan usaha. Ketika perang uhud beliau memakai dua baju besi dan ketika hijrah ke madinah beliau menyewa penunjuk jalan, beliau juga berlindung dari panas dan dingin, tapi hal tersebut tidak mengurangi tawakalnya kepada Allah Ta’ala.
Jadi, mengambil sebab yang disyari’atkan menunjukan kesempurnaan tawakal dan kekuatannya, dan meninggalkan sebab menunjukan kebodohannya terhadap syari’at rabbnya. Barangsiapa yang membaca kisah-kisah para Nabi, terkhusus Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya akan melihat bahwasannya mereka adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah Ta’ala, bersamaan dengan itu mereka juga mengambil sebab dan meyakini bahwa hal tersebut merupakan kesempurnaan tawakal kepada Allah.
Penulis: Husni Ridho (Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)
Artikel www.muslim.or.id
Powered by Telkomsel BlackBerry® & Nokia E71
Label:
Hikmah
|
0
komentar
Minggu, 28 Februari 2010
Sisi lain kasus atau tragedi bencana LAPINDO
09.29 | Diposting oleh
Unknown
www.satuiku.com Tragedi semburan lumpur Lapindo yang terjadi bebrapa tahun silam setidaknya menjadi sedikit bukti bahwa adanya perubahan system pada lapisan perut bumi. Kejadian ini terjadi di beberapa tempat di Jawa ini dalam radius yang berjauhan bahkan ada yang terjadi di Kalimantan Selatan.
Bila di kaji lebih jauh dari aspek Geologi ternyata lokasi-lokasi terjadinya kasus tersebut ternyata merupakan jalur Gunung Api Purba yang telah mati jutaan tahun yang silam. Dari hasil penelitian berdasarkan sampel material lumpur yang di lakukan di laboratorium oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menunjukan bahwa material yang di keluarkan bumi memang berasal dari produk gunung api purba.
Material tersebut sekitar 70% berupa air asin yang berasal dari kedalaman 6-9 Kilometer, banyaknya air yang keluar dari rekahan di porong diperkirakan merupakan air laut yang terjebak di daratan akibat proses letusan gunung api purba, jutaan tahun silam dan setelah itu mengalami proses pengangkatan sehingga menjadi daratan seperti yang kita kenal sekarang.
Para ahli tersebut menyimpulkan ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan kejadian tersebut, pertama adanya desakan gas dalam jumlah yang tinggi, kedua munculnya struktur lempung vulkanik, ketiga adanya intrusi magma dari perut bumi serta migrasi aliran hidrotermal. Seluruh kemungkinan tersebut kemudian di picu oleh aktifitas pengeboran.
Semua dugaan-dugaan dan analisa-analisa tersebut kemudian tidak saya maksudkan untuk membela pihak manapun, karena apapun penyebabnya yang pasti penderitaan dan kesengsaraan masyarakat korban lumpur itu harus ada yang bertanggung jawab.
Analisa geologis tersebut bila kita hubungkan dengan uraian panjang lebar dari Prof. Arysio Santos seorang ahli geologi dan fisikawan nuklir asal Brazil dalam bukunya Atlantis The Lost Continent Finally Found The Definitive Localization Of Plato’s Lost Civilization yang telah di terjemahkan dalam bahasa Indonesia, Indonesia Ternyata tempat lahir peradaban dunia ternyata ada relevansinya.
Kita mungkin bertanya-tanya, siapa sebenarnya bangsa Atlantis itu, benarkah bahwa peradaban itu pernah ada? Menurut pendapat saya pribadi jawaban atas pertanyaan tersebut adalah “MUNGKIN”.
Kemungkinan yang PERTAMA adalah sebagaimana dinyatakan didalam AL-Qur’an bahwa sebelum nabi Adam AS telah ada kehidupan di muka bumi hanya saja tidak yakin secara pasti siapakah dia apakah manusia seperti kita sekarang ini atau mahluk lain yang seperti manusia.
Kemungkinan yang KEDUA adalah berdasarkan Al-Qur’an dan juga catatan sejarah bahwa peradaban manusia ini telah beberapa kali mengalami bencana yang dahsyat bahkan nyaris punah. Ketika banjir besar menghantam manusia di zaman Nabi Nuh AS, maka tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang ikut di dalam bahtera nabi Nuh AS, selanjutnya ALLAH SWT bahwa tidak ada yang tersisa dari seluruh manusia kecuali yang turut bersama nabi NUH AS yaitu tiga orang dan keturunannya; Sam, Ham dan Yafits sebagaimana firman ALLAH di dalam AL-Qur’an surah Al-Isra [17]:3.
Setiap umat dari seluruh umat manusia yang ada kembali kepada nasabnya salah satu dari tiga anahk Nuh AS, nabi NUH AS memiliki 4 orang anak laki-laki yaitu Yafits, Sam, Ham dan Kan’an, Kan’an inilah yang termasuk tidak selamat. Berdasarkan berbagai kajian dan sumber serta risalah Islami bangsa Maya yang terkenal dengan keakuratan dan keahlian astronominya dan ramalan 2012 nya di duga kuat adalah merupakan manusia keturunan dari Yafits (Saudara tertua).
Kesimpulan saya adalah bahwa jauh sebelum sejarah dicatat dan perhitungan tahun dimulai kehidupan dan peradaban di Bumi itu telah ada, Manusia telah beberapa kali ditimpa bencana dahsyat dan kemudian merintisnya kembali dan akan datang juga suatu masa di mana Manusia dan kehidupan akan dimusnahkan seluruhnya kecuali yang Maha Hidup dan apa yang di kehendakinya. Sisi lain dan hikmah dari bencana semburan lumpur di Lapindo itu menuntun kita untuk merenung dan membaca tanda-tanda akhir zaman yang kian dekat. Wallahu a’lam bish shawab.
Terinspirasi dari:
Atlantis The Lost Continent Finally Found The Definitive Localization Of Plato’s Lost Civilization
Dan Kiamat 2012 antara ramalan, sains dan tinjauan nubuwat akhir jaman
Powered by Telkomsel BlackBerry® & Nokia E71
Bila di kaji lebih jauh dari aspek Geologi ternyata lokasi-lokasi terjadinya kasus tersebut ternyata merupakan jalur Gunung Api Purba yang telah mati jutaan tahun yang silam. Dari hasil penelitian berdasarkan sampel material lumpur yang di lakukan di laboratorium oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menunjukan bahwa material yang di keluarkan bumi memang berasal dari produk gunung api purba.
Material tersebut sekitar 70% berupa air asin yang berasal dari kedalaman 6-9 Kilometer, banyaknya air yang keluar dari rekahan di porong diperkirakan merupakan air laut yang terjebak di daratan akibat proses letusan gunung api purba, jutaan tahun silam dan setelah itu mengalami proses pengangkatan sehingga menjadi daratan seperti yang kita kenal sekarang.
Para ahli tersebut menyimpulkan ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan kejadian tersebut, pertama adanya desakan gas dalam jumlah yang tinggi, kedua munculnya struktur lempung vulkanik, ketiga adanya intrusi magma dari perut bumi serta migrasi aliran hidrotermal. Seluruh kemungkinan tersebut kemudian di picu oleh aktifitas pengeboran.
Semua dugaan-dugaan dan analisa-analisa tersebut kemudian tidak saya maksudkan untuk membela pihak manapun, karena apapun penyebabnya yang pasti penderitaan dan kesengsaraan masyarakat korban lumpur itu harus ada yang bertanggung jawab.
Analisa geologis tersebut bila kita hubungkan dengan uraian panjang lebar dari Prof. Arysio Santos seorang ahli geologi dan fisikawan nuklir asal Brazil dalam bukunya Atlantis The Lost Continent Finally Found The Definitive Localization Of Plato’s Lost Civilization yang telah di terjemahkan dalam bahasa Indonesia, Indonesia Ternyata tempat lahir peradaban dunia ternyata ada relevansinya.
Kita mungkin bertanya-tanya, siapa sebenarnya bangsa Atlantis itu, benarkah bahwa peradaban itu pernah ada? Menurut pendapat saya pribadi jawaban atas pertanyaan tersebut adalah “MUNGKIN”.
Kemungkinan yang PERTAMA adalah sebagaimana dinyatakan didalam AL-Qur’an bahwa sebelum nabi Adam AS telah ada kehidupan di muka bumi hanya saja tidak yakin secara pasti siapakah dia apakah manusia seperti kita sekarang ini atau mahluk lain yang seperti manusia.
Kemungkinan yang KEDUA adalah berdasarkan Al-Qur’an dan juga catatan sejarah bahwa peradaban manusia ini telah beberapa kali mengalami bencana yang dahsyat bahkan nyaris punah. Ketika banjir besar menghantam manusia di zaman Nabi Nuh AS, maka tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang ikut di dalam bahtera nabi Nuh AS, selanjutnya ALLAH SWT bahwa tidak ada yang tersisa dari seluruh manusia kecuali yang turut bersama nabi NUH AS yaitu tiga orang dan keturunannya; Sam, Ham dan Yafits sebagaimana firman ALLAH di dalam AL-Qur’an surah Al-Isra [17]:3.
Setiap umat dari seluruh umat manusia yang ada kembali kepada nasabnya salah satu dari tiga anahk Nuh AS, nabi NUH AS memiliki 4 orang anak laki-laki yaitu Yafits, Sam, Ham dan Kan’an, Kan’an inilah yang termasuk tidak selamat. Berdasarkan berbagai kajian dan sumber serta risalah Islami bangsa Maya yang terkenal dengan keakuratan dan keahlian astronominya dan ramalan 2012 nya di duga kuat adalah merupakan manusia keturunan dari Yafits (Saudara tertua).
Kesimpulan saya adalah bahwa jauh sebelum sejarah dicatat dan perhitungan tahun dimulai kehidupan dan peradaban di Bumi itu telah ada, Manusia telah beberapa kali ditimpa bencana dahsyat dan kemudian merintisnya kembali dan akan datang juga suatu masa di mana Manusia dan kehidupan akan dimusnahkan seluruhnya kecuali yang Maha Hidup dan apa yang di kehendakinya. Sisi lain dan hikmah dari bencana semburan lumpur di Lapindo itu menuntun kita untuk merenung dan membaca tanda-tanda akhir zaman yang kian dekat. Wallahu a’lam bish shawab.
Terinspirasi dari:
Atlantis The Lost Continent Finally Found The Definitive Localization Of Plato’s Lost Civilization
Dan Kiamat 2012 antara ramalan, sains dan tinjauan nubuwat akhir jaman
Powered by Telkomsel BlackBerry® & Nokia E71
Rabu, 24 Februari 2010
Seperti terhipnotis
08.27 | Diposting oleh
Unknown
Banyak kaum muslimin yang tertimpa penyakit jiwa, terjebak dalam lingkaran setan dan tersesat pada jalan-jalan yang menyimpang, tidak mendapatkan kenikmatan dan ketenangan hidup karena jarang sekali membaca Al-Qur’an.Yang banyak dibaca adalah buku, majalah, koran dan surat yang isinya seringkali jauh dari Al-Qur’an dan Sunah Rasul, sementara Al-Qur’an jarang sekali bahkan untuk membaca terlintas pun tidak.
Telinganya lebih sedang mendengarkan musik-musik, nyanyian-nyanyian, gosip-gosip ( ghibah ) dan lain sebagainya dan jarang digunakan untuk mendengarkan kitab Al-Qur’an.
Matanya lebih suka dipergunakan untuk melihat film, sinetron berseri ( bertahun-tahun lagi ), serta aneka hiburan lainya dan jarang dipergunakan untuk melihat apa yang tertulis di dalam mushaf Al-Qur’an.
Setiap hari ia gunakan lisannya untuk membicarakan berbagai macam hal yang jauh dari tuntunan bahkan berkata-kata yang kotor dan jarang dipergunakan untuk membaca Al-Qur’an.
Semua Kesenangan-kesenangan diatas sepertinya telah menghipnotis kebanyakan kaum muslimin sehingga melupakan AL-Qur’an dan Sunah Rasulnya.
Hari demi hari berganti bulan, bulan berganti tahun namun tidak berubah. Bagaimana mungkin seorang muslim yang meninggalkan Al-Qur’an akan mendapatkan kebahagiaan.
Dari Abu Dzar RA diriwayatkan bahwa ia berkata,
" Aku pernah berkata, ’wahai Rasululloh! berilah wasiat kepadaku.’ Beliau bersabda ’Aku wasiatkan kepadamu agar bertaqwa kepada ALLOH, karena itu akan menghiasi seluruh urusanmu.’ Aku berkata, ’wahai Rasulullah! tambahilah nasihatnya.’ Beliau bersabda, ’Hendaknya engkau membaca Al-Qur’an dan berdzikir kepada ALLOH Aja Wajala, karena ia merupakan pujian bagimu dilangit dan cahaya bagimu dibumi’, AKu berkata, ’Wahai Rasulullah tambah lagi nasihatnya.’ Beliau bersabda ’ Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.’ Aku berkata, ’Tambahi lagi.’ Beliau bersabda, ’Katakan yang benar, meskipun pahit.’ dan aku berkata, ’Tambahi lagi.’ Beliau bersabda, ’ Janganlah engkau takut celaan orang yang mencela ketika beramal karena ALLOH.’ "
Diriwayatkan oleh Ahmad, Thobroni, Ibnu Hibban, dan Hakim. Shohibu’t-Targhib wa ’t-Tarhib (III/92) (2868).
Terisnpirasi dari: Penyimpangan-penyimpangan dalam masalah keimanan, 100 Dosa yag diremehkan wanita karya ’Abdul Latif bin Hajis Al-Ghomidi
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
Hikmah
|
0
komentar
Wasiat kepada para suami
03.29 | Diposting oleh
Unknown
Rasulullah SAW bersabda " Berwasiatlah kebaikan kepada istri kalian, karena perempuan tercipta dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah atasnya. Kalau engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya. Jika engkau tidak meluruskannya, ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kebaikan kepada istri-istri kalian." (H R. Bukhari dan Muslim)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
Hikmah
|
0
komentar
Jumat, 19 Februari 2010
Tentang maskawin didalam pernikahan
03.26 | Diposting oleh
Unknown
Mas kawin atau mahar adalah syarat di dalam suatu pernikahan, menurut para ulama dari kalangan mazhab Syafi'i, segala sesuatu yang memiliki nilai untuk membeli apa saja boleh di jadikan sebagai mas kawin. Muhammad Rasulullah SAW bersabda "carilah walau hanya sebuah cincin dari besi"
Pada jaman sekarang ini Mas Kawin atau Mahar yang besar atau mahal seolah-olah menjadi trend sebagai bentuk dan wujud status sosial si pemberi dan penerimannya, ada juga yang terkesan meminta dan menetapkan mas kawin atau mahar yang menyulitkan bagi kaum pria, pada kasus seperti ini biasanya yang menjadi alasan adalah soal kehawatiran dan ketakutan terhadap kekurangan material.
Sebenarnya hal ini tidak di anjurkan, karena Allah telah menjanjikan kecukupan atas hal tersebut, firman Allah "Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-nya" ( QS: An-Nuur:RE)" jadi berharaplah akan adanya kecukupan itu datangnya hanya dari Allah.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia menuturkan Rasulullah Alaihi wa Salam bersabda "Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling mudah ongkosnya (maskawinnya)"
Diriwayatkan dari Aisyah RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda "Wanita yang paling besar berkahnya adalah yang paling mudah ongkosnya (maskawinnya)"
Dalam berbagai riwayat di sebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak menyukai maskawin yang terlalu mahal, karena sesungguhnya berkah pernikahan itu bukan berada pada mahalnya maskawin.
***
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Pada jaman sekarang ini Mas Kawin atau Mahar yang besar atau mahal seolah-olah menjadi trend sebagai bentuk dan wujud status sosial si pemberi dan penerimannya, ada juga yang terkesan meminta dan menetapkan mas kawin atau mahar yang menyulitkan bagi kaum pria, pada kasus seperti ini biasanya yang menjadi alasan adalah soal kehawatiran dan ketakutan terhadap kekurangan material.
Sebenarnya hal ini tidak di anjurkan, karena Allah telah menjanjikan kecukupan atas hal tersebut, firman Allah "Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-nya" ( QS: An-Nuur:RE)" jadi berharaplah akan adanya kecukupan itu datangnya hanya dari Allah.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia menuturkan Rasulullah Alaihi wa Salam bersabda "Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling mudah ongkosnya (maskawinnya)"
Diriwayatkan dari Aisyah RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda "Wanita yang paling besar berkahnya adalah yang paling mudah ongkosnya (maskawinnya)"
Dalam berbagai riwayat di sebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak menyukai maskawin yang terlalu mahal, karena sesungguhnya berkah pernikahan itu bukan berada pada mahalnya maskawin.
***
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Label:
Hikmah
|
0
komentar
Sabtu, 13 Februari 2010
Fatwa NU tentang gosip
18.45 | Diposting oleh
Unknown
Catatan Redaksi: Sesuai permintaan pembaca, berikut ini adalah hasil Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya 02 – 05 R Rajab 1427 H bertepatan dengan 27 – 30 JULI 2006 M, disertai beberapa kutipan dasar hukumnya.
Diskripsi Masalah
Beberapa televisi menayangkan secara rutin berbagai jenis acara infotainment, seperti Cek & Ricek, Kroscek, Gossip, Go Show, KiSS, Kabar-Kabari, dan masih banyak lagi. Demikian pula beberapa radio tidak ketinggalan untuk menyiarkan acara yang serupa. Acara-acara tersebut seringkali mengungkap serta membeberkan berbagai macam kejelekan seseorang, dan bahkan mengarah kepada penyebaran fitnah. Akan tetapi, acara-acara tersebut justru telah menarik minat banyak pemirsa, apalagi acara ini menyangkut kehidupan para selebriti yang digandrungi masyarakat Indonesia.
Pertanyaan
Bagaimanakah hukum menayangkan, menyiarkan, menonton atau mendengarkan acara televisi, radio atau dalam bentuk lainnya yang mengungkap serta membeberkan kejelekan seseorang atau mengorek-ngorek sisi yang sangat pribadi dalam kehidupan seseorang yang mestinya tidak boleh disiarkan lepada orang lain?
Jawaban
Pada dasarnya menayangkan, menyiarkan, menonton atau mendengarkan acara apa pun yang mengungkap serta membeberkan kejelekan seseorang adalah haram, kecuali didasari tujuan yang dibenarkan secara syar’i dan –yang terpenting dicatat– jika hanya dengan cara itu tujuan tersebut dapat tercapai, seperti memberantas kemungkaran, memberi peringatan, menyampaikan pengaduan/laporan, meminta pertolongan dan meminta fatwa hukum.
Dasar Penetapan
Al-Qur’an
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat 49 : 12)
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Al Ahzab :58)
b. As-Sunnah/Hadits
Dari Abu Hurairoh, sesunguhnya Rasulullah SAW bersabda, “aApakah kalian mengetahui apa ghibah itu?” Para shababat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau mengatakan, “Ghibah itu adalah bercerita tentang saudara kalian apa-apa yang tidak ia sukai.” Rasul bersabda, “Bagaimana menurut kalian kalau yang direcitakan itu benar-benar nyata apa adanya? Maka inilah yang disebut ghibah, dan apabila apa yang kalian ceritakan tidak nyata, maka berarti kalian telah membuat kedustaan (fitnah) kepadanya."
c. Aqwal/pendapat Ulama
Imam Qurtubi memberikan penjelasan tentang firman Allah, “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati”: Allah memberikan perumpamaan mengenai kejelekan ghibah dengan memakan daging orang mati karena orang mati tidak mungkin mengetahui kalau dagingnya sedang dimakan, seperti saat ia hidup tidak mengetahui bahwa dirinya sedang digunjingkan.
Imam Nawawi memberikan penjelasan: Ketahuilah bahwa ghibah itu diperbolehkan untuk tujuan yang dibenarkan oleh syariat dengan catatan tidak ada cara lain selain itu. Ada enam alasan ghibah diperbolehkan… Yang kedua adalah (dengan ghibah itu) dia berupaya mengubah kemungkaran atau mengalihkan perbuatan maksiat kepada kebaikan... (Demikian dalam kitab Riyadlus Sholihin hlm 432-433).
Sumber NU Online
LiveJournal Tags: Infotainment, Fatwa, Haram, Gosip, Televisi, TV, Radio, NU 43 Things Tags: Infotainment, Fatwa, Haram, Gosip, Televisi, TV, Radio, NU
Diskripsi Masalah
Beberapa televisi menayangkan secara rutin berbagai jenis acara infotainment, seperti Cek & Ricek, Kroscek, Gossip, Go Show, KiSS, Kabar-Kabari, dan masih banyak lagi. Demikian pula beberapa radio tidak ketinggalan untuk menyiarkan acara yang serupa. Acara-acara tersebut seringkali mengungkap serta membeberkan berbagai macam kejelekan seseorang, dan bahkan mengarah kepada penyebaran fitnah. Akan tetapi, acara-acara tersebut justru telah menarik minat banyak pemirsa, apalagi acara ini menyangkut kehidupan para selebriti yang digandrungi masyarakat Indonesia.
Pertanyaan
Bagaimanakah hukum menayangkan, menyiarkan, menonton atau mendengarkan acara televisi, radio atau dalam bentuk lainnya yang mengungkap serta membeberkan kejelekan seseorang atau mengorek-ngorek sisi yang sangat pribadi dalam kehidupan seseorang yang mestinya tidak boleh disiarkan lepada orang lain?
Jawaban
Pada dasarnya menayangkan, menyiarkan, menonton atau mendengarkan acara apa pun yang mengungkap serta membeberkan kejelekan seseorang adalah haram, kecuali didasari tujuan yang dibenarkan secara syar’i dan –yang terpenting dicatat– jika hanya dengan cara itu tujuan tersebut dapat tercapai, seperti memberantas kemungkaran, memberi peringatan, menyampaikan pengaduan/laporan, meminta pertolongan dan meminta fatwa hukum.
Dasar Penetapan
Al-Qur’an
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ - الحجرات : ١٢
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al-Hujurat 49 : 12)
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا - الأحزاب : ٥٨
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Al Ahzab :58)
b. As-Sunnah/Hadits
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ - رواه مسلم
Dari Abu Hurairoh, sesunguhnya Rasulullah SAW bersabda, “aApakah kalian mengetahui apa ghibah itu?” Para shababat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau mengatakan, “Ghibah itu adalah bercerita tentang saudara kalian apa-apa yang tidak ia sukai.” Rasul bersabda, “Bagaimana menurut kalian kalau yang direcitakan itu benar-benar nyata apa adanya? Maka inilah yang disebut ghibah, dan apabila apa yang kalian ceritakan tidak nyata, maka berarti kalian telah membuat kedustaan (fitnah) kepadanya."
c. Aqwal/pendapat Ulama
قال القرطبي: "... قوله تعالى ﴿ أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا ﴾ مثل الله الغيبة بأكل الميتة لأن الميت لا يعلم بأكل لحمه كما أن الحي لا يعلم بغيبة من اغتابه
Imam Qurtubi memberikan penjelasan tentang firman Allah, “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati”: Allah memberikan perumpamaan mengenai kejelekan ghibah dengan memakan daging orang mati karena orang mati tidak mungkin mengetahui kalau dagingnya sedang dimakan, seperti saat ia hidup tidak mengetahui bahwa dirinya sedang digunjingkan.
قال النووي : "اعلم أن الغيبة تباح لغرض صحيح شرعي لا يمكن الوصول إليه إلا بها ، وهو بستة أسباب : ...... الثاني الاستعانة على تغيير المنكر ورد العاصي إلى الصواب - رياض الصالحين ، بيروت : مؤسسة الرسالة , ١٤١٧ هـ/ ١٩٩٧م، ص ٤٣٢-٤٣٣
Imam Nawawi memberikan penjelasan: Ketahuilah bahwa ghibah itu diperbolehkan untuk tujuan yang dibenarkan oleh syariat dengan catatan tidak ada cara lain selain itu. Ada enam alasan ghibah diperbolehkan… Yang kedua adalah (dengan ghibah itu) dia berupaya mengubah kemungkaran atau mengalihkan perbuatan maksiat kepada kebaikan... (Demikian dalam kitab Riyadlus Sholihin hlm 432-433).
Sumber NU Online
LiveJournal Tags: Infotainment, Fatwa, Haram, Gosip, Televisi, TV, Radio, NU 43 Things Tags: Infotainment, Fatwa, Haram, Gosip, Televisi, TV, Radio, NU
Label:
Hikmah
|
0
komentar
Jumat, 12 Februari 2010
Membenci dan menghujat hukum yang di tetapkan ALLAH
19.36 | Diposting oleh
Unknown
Membenci dan menghujat hukum yang di tetapkan ALLAH Membencidan menghujat, mencela dan tidak senang dengan hukum-hukum yang ditetapkan olehALLAH baik sebagian ataupun keseluruhannya adalah perbuatan yang dapatmembatalkan keislaman seseorang dan menyebabkan pelakunya murtad dari dinul Islam.
Terhadap hukum ALAH, Orang yang pertama menyelisihkannya maka dia telah sengaja murtad dari dien Islam, sedangkan untuk orang yang kedua dia akan mendapatkan dosa menurut kadar sejauh mana kemaksiatan yang dilakukannya, namun masih dikategorikan dalam ruang lingkup orang-orang yang beriman dan termasuk orang yang beriman.
Diantara contoh menghujat dan mebenci hukum ALLAH itu adalah bahwa ALLAH memperbolehkan para laki-laki berpoligami atau menikah lebih dari satu (dengan syarat yang ditentukan).
Mereka yang menganggap bahwa hal tersebut merupakan bentuk penzholiman terhadap kaum wanita, sewenang-wenang, merugikan dan menyatakan bahwa hukum ituadalah tidak adil karena hukum itu hanya mengenakan kaum lelaki, tidak ada hikmah apa lagi rahmat didalamnya. Fikiran dan pandangan seperti itu bisa menyebabkan amalannya hilang binasa sebab keyakinan seperti itu merupakan pangkal dari segala kerusakan.
Sekiranya seseorang merasa beriman dan ridho terhadap ketentuan dan hukum ALLAH tersebutnamun hawa nafsunya tidak rela terhadap hukum tersebut karena adanya rasa cemburu maka hal tersebut bisa di jadikan alasan di hadapan Robbnya. Namun jika menganggap bahwa ALLAH telah zholim didalam menetapkan suatu ketetapan(hukum) kemudian menghujat hukum itu dan menodai syariat itu, maka yang demikian itu termasuk perbuatan dosa yang paling besar.
Dari: AbdulLathif bin Hajis Al-Ghomidi, 100 Dosa Yang Diremehkan Wanita, 1421H/2001M
Technorati Tags: Hikmah, Islam, Artikel, Poligami, Akidah, Aqidah 43 Things Tags: Hikmah, Islam, Artikel, Poligami, Akidah, Aqidah LiveJournal Tags: Hikmah, Islam, Artikel, Poligami, Akidah, Aqidah
Label:
Hikmah
|
0
komentar
Senin, 04 Januari 2010
DARI HATI KE HATI
20.02 | Diposting oleh
Unknown
DARI HATI KE HATI
Kepada semua yang sentiasa mendoakan aku maka inilah ucapan terima kasihku:
ANDAIKATA satu dari anggota-anggotamu tidak lagi dapat digunakan, engkau masih wajib bersyukur
pada Tuhan kerana masih ada 1001 jenis anggota lagi yang ada pada dirimu yang masih boleh digunakan.
TIDAK mengapa kalau kakimu sakit, asalkan hatimu tidak sakit. kerana kalau kakimu sakit,
engkau hanya tidak dapat berjalan, tapi kalau hatimu sakit, engkau akan hilang kebahagiaan.
DUA bulan aku terlantar sakit, rupanya Tuhanku mahu aku belajar terutamanya mengenal diri sendiri DALAM buku ini adalah sebahugian dari pelajaran yang kuperolehi semasa aku terlantar sakit akibat kemalangan jalan raya.
RUPANYA begitu pendidikan Tuhan yang Maha Hakim lagi Rahim, di dalam bala ada rahmat.
Syeikhul Arqam
Ashaari Muhammad
Technorati Tags: DARI HATI KE HATI, Hati, Hikmah, Islam 43 Things Tags: DARI HATI KE HATI, Hati, Hikmah, Islam LiveJournal Tags: DARI HATI KE HATI, Hati, Hikmah, Islam
Kepada semua yang sentiasa mendoakan aku maka inilah ucapan terima kasihku:
ANDAIKATA satu dari anggota-anggotamu tidak lagi dapat digunakan, engkau masih wajib bersyukur
pada Tuhan kerana masih ada 1001 jenis anggota lagi yang ada pada dirimu yang masih boleh digunakan.
TIDAK mengapa kalau kakimu sakit, asalkan hatimu tidak sakit. kerana kalau kakimu sakit,
engkau hanya tidak dapat berjalan, tapi kalau hatimu sakit, engkau akan hilang kebahagiaan.
DUA bulan aku terlantar sakit, rupanya Tuhanku mahu aku belajar terutamanya mengenal diri sendiri DALAM buku ini adalah sebahugian dari pelajaran yang kuperolehi semasa aku terlantar sakit akibat kemalangan jalan raya.
RUPANYA begitu pendidikan Tuhan yang Maha Hakim lagi Rahim, di dalam bala ada rahmat.
Syeikhul Arqam
Ashaari Muhammad
Technorati Tags: DARI HATI KE HATI, Hati, Hikmah, Islam 43 Things Tags: DARI HATI KE HATI, Hati, Hikmah, Islam LiveJournal Tags: DARI HATI KE HATI, Hati, Hikmah, Islam
Label:
Hikmah
|
0
komentar
Minggu, 03 Januari 2010
7 Keajaiban yang kita lupakan
18.15 | Diposting oleh
Unknown
7 Keajaiban dunia
Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari ‘Tujuh Keajaiban Dunia’.
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ saat ini. Walaupun ada beberapa ketidak sesuaian,
sebagian besar daftar berisi sbb :
1] Piramida
2] Taj Mahal
3] Tembok Besar Cina
4] Menara Pisa
5] Kuil Angkor
6] Menara Eiffel
7] Kuil Parthenon
Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, se orang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya. Gadis pendiam itu menjawab, ‘Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya ‘keajaiban itu’. Sang guru berkata,’Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya’.
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, ‘Saya pikir, ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ itu adalah :
1] Bisa melihat,
2] Bisa mendengar,
3] Bisa menyentuh,
4] Bisa menyayangi,
5] Bisa merasakan,
6] Bisa tertawa, dan
7] Bisa mencintai
Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya ‘keajaiban’. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai ‘biasa’.
43 Things Tags: 7, Keajaiban dunia, Kajaiban, Kita lupakan, Lupakan, Hikmah LiveJournal Tags: 7, Keajaiban dunia, Kajaiban, Kita lupakan, Lupakan, Hikmah Technorati Tags: 7, Keajaiban dunia, Kajaiban, Kita lupakan, Lupakan, Hikmah
Label:
Hikmah
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
