Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Kamis, 24 Desember 2009
Praktek Operasi Ganti Kelamin Cermin Rusaknya Moral
21.22 | Diposting oleh
Unknown
JAKARTA--Praktek operasi ganti kelamin bagi seorang laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya adalah cermin rusaknya moral, karena tindakan itu melanggar hukum agama dan moral. Dengan demikian putusan Pengadilan Negeri Batang yang mensahkan praktek penggantian kelamin bertentangan dengan hukum agama dan nilai moral yang berkembang di masyarakat.
Ini ditegaskan staf pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, Asrorun Niam dalam perbincangan dengan Republika di Jakarta, Kamis (24/12). Pernyataan Niam menanggapi putusan PN Batang Jawa Tengah terhadap kasus Agus Widiyanto yang mengajukan penetapan pergantian status dari laki-laki menjadi perempuan setelah pelaksanaan operasi ganti kelamin di RSUD dr Soetomo Surabaya. ’’Hakim yang menetapkan putusan tersebut harus bertanggung jawab, bahkan Komisi Yudisial harus memeriksanya,’’ kata Niam.
Lebih lanjut Doktor bidang hukum Islam ini menjelaskan bahwa tindakan mengganti kelamin adalah haram, dan masuk kategori kriminal karena mengganti ciptaan Tuhan. Dalam Islam, jelasnya, dimungkinkan melakukan operasi kelamin jika untuk kepentingan pengobatan dan alasan medis. ’’Misalnya ada bayi terlahir dengan kelamin perempuan namun tertutup lobang vaginanya, atau memiliki dua alat kelamin yang salah satunya lebih kuat, maka dalam kondisi seperti ini dibolehkan untuk penyempurnaan,’’ papar Niam.
Terkait dengan tindakan operasi ganti kelamin dari laki-laki ke perempuan atau sebaliknya, Niam meminta otoritas kedokteran untuk menegakkan Kode Etik kedokteran, mengingat tindakan ini menyalahi ketentuan agama. osa/kpo
Sumber: http://www.republika.co.id/
Technorati Tags: Majelis Ulama Indonesia, MUI, Nadia Ilmira Arkadia, Kasus, Ganti Kelamin, Hukum 43 Things Tags: Majelis Ulama Indonesia, MUI, Nadia Ilmira Arkadia, Kasus, Ganti Kelamin, Hukum LiveJournal Tags: Majelis Ulama Indonesia, MUI, Nadia Ilmira Arkadia, Kasus, Ganti Kelamin, Hukum
Ini ditegaskan staf pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, Asrorun Niam dalam perbincangan dengan Republika di Jakarta, Kamis (24/12). Pernyataan Niam menanggapi putusan PN Batang Jawa Tengah terhadap kasus Agus Widiyanto yang mengajukan penetapan pergantian status dari laki-laki menjadi perempuan setelah pelaksanaan operasi ganti kelamin di RSUD dr Soetomo Surabaya. ’’Hakim yang menetapkan putusan tersebut harus bertanggung jawab, bahkan Komisi Yudisial harus memeriksanya,’’ kata Niam.
Lebih lanjut Doktor bidang hukum Islam ini menjelaskan bahwa tindakan mengganti kelamin adalah haram, dan masuk kategori kriminal karena mengganti ciptaan Tuhan. Dalam Islam, jelasnya, dimungkinkan melakukan operasi kelamin jika untuk kepentingan pengobatan dan alasan medis. ’’Misalnya ada bayi terlahir dengan kelamin perempuan namun tertutup lobang vaginanya, atau memiliki dua alat kelamin yang salah satunya lebih kuat, maka dalam kondisi seperti ini dibolehkan untuk penyempurnaan,’’ papar Niam.
Terkait dengan tindakan operasi ganti kelamin dari laki-laki ke perempuan atau sebaliknya, Niam meminta otoritas kedokteran untuk menegakkan Kode Etik kedokteran, mengingat tindakan ini menyalahi ketentuan agama. osa/kpo
Sumber: http://www.republika.co.id/
Technorati Tags: Majelis Ulama Indonesia, MUI, Nadia Ilmira Arkadia, Kasus, Ganti Kelamin, Hukum 43 Things Tags: Majelis Ulama Indonesia, MUI, Nadia Ilmira Arkadia, Kasus, Ganti Kelamin, Hukum LiveJournal Tags: Majelis Ulama Indonesia, MUI, Nadia Ilmira Arkadia, Kasus, Ganti Kelamin, Hukum
Jumat, 04 Desember 2009
Waspada Pengaruh Jejaring Sosial Dunia Maya pada Anak
19.59 | Diposting oleh
Unknown
JAKARTA--Berkembangnya situs jejaring sosial sebagai tren komunikasi masyarakat modern, perlu disikapi para orang tua dengan hati-hati. Pasalnya, anak-anak dikhawatirkan dapat terpengaruh negatif dengan arus informasi yang demikian bebas dalam situs jejaring sosial.
Riset di Inggris baru-baru ini mencatat, 3/4 anak-anak mengunjungi situs jejaring sosial tanpa sepengetahuan orang tua. Rata-rata dari mereka merupakan anak-anak yang pernah dihukum orang tuanya saat ketahuan mengunjungi situs pertemanan macam Facebook atau Bebo.
"Di Eropa, mayoritas remaja pengguna internet aktif mengakses situs jejaring sosial, dan di Inggris raya, sekitar 3/4 remaja pengguna internet mengakses situs yang sama," tukas peneliti, Profesor Tanya Brown seperti yang dilansir Telegraph, Senin (30/11).
Sumber
"Bagaimana bisa 90% orang tua tidak membolehkan anaknya mengunjungi situs jejaring sosial?bahkan secara diam-diam, ini pertanda ada masalah dan mengkhawatirkan," tambahnya.
Dia berpendapat, pada dasarnya situs macam fFacebook atau Bobe memiliki batas umur yang berhak mengakses situs. Misalnya, Facebook yang membatasi usia yang berhak mengakses pada usia 13 tahun. Tapi Brown mengingatkan orang tua untuk bersikap hati-hati.
"Anak-anak mendapatkan manfaat dari situs jejaring sosial dimana dia memperluas jangkauan pergaulan dan mengahbiskan waktu dengan teman sepermainan," tukasnya.
"Tapi hal yang terjadi, anak-anak yang mengunjungi situs malahan saling menganggu satu sama lain, lantaran tidak ada satupun yang berbicara dengan mereka tantang komunikasi via dunia maya dan komunikasi sesungguhnya," tambahnya.
Brown menilai, sangat mudah untuk berkomunikasi lewat dunia maya. Cukup tekan tombol kirim maka komunikasi pun berlangsung. Namun dia mengingatkan, sudah seharusnya anak-anak mengetahui maksud dan esensi berkomunikasi lewat dunia maya.
Dari catatan penelitian sebelumnya, tercatat 62% anak-anak berbohong kepada orang tuanya tentang prilaku mereka yang berkaitan dengan dunia maya. Riset tersebut menjelaskan, rata-rata anak sebetulnya tidak memahami apa yang dia lakukan dan dampaknya terhadap mereka. Anak-anak dengan sukses mengelabui orang tua mereka dengan menyembunyikan apa yang sebenarnya dilakukan saat berada di dunia maya. cr2/rin
Riset di Inggris baru-baru ini mencatat, 3/4 anak-anak mengunjungi situs jejaring sosial tanpa sepengetahuan orang tua. Rata-rata dari mereka merupakan anak-anak yang pernah dihukum orang tuanya saat ketahuan mengunjungi situs pertemanan macam Facebook atau Bebo.
"Di Eropa, mayoritas remaja pengguna internet aktif mengakses situs jejaring sosial, dan di Inggris raya, sekitar 3/4 remaja pengguna internet mengakses situs yang sama," tukas peneliti, Profesor Tanya Brown seperti yang dilansir Telegraph, Senin (30/11).
Sumber
"Bagaimana bisa 90% orang tua tidak membolehkan anaknya mengunjungi situs jejaring sosial?bahkan secara diam-diam, ini pertanda ada masalah dan mengkhawatirkan," tambahnya.
Dia berpendapat, pada dasarnya situs macam fFacebook atau Bobe memiliki batas umur yang berhak mengakses situs. Misalnya, Facebook yang membatasi usia yang berhak mengakses pada usia 13 tahun. Tapi Brown mengingatkan orang tua untuk bersikap hati-hati.
"Anak-anak mendapatkan manfaat dari situs jejaring sosial dimana dia memperluas jangkauan pergaulan dan mengahbiskan waktu dengan teman sepermainan," tukasnya.
"Tapi hal yang terjadi, anak-anak yang mengunjungi situs malahan saling menganggu satu sama lain, lantaran tidak ada satupun yang berbicara dengan mereka tantang komunikasi via dunia maya dan komunikasi sesungguhnya," tambahnya.
Brown menilai, sangat mudah untuk berkomunikasi lewat dunia maya. Cukup tekan tombol kirim maka komunikasi pun berlangsung. Namun dia mengingatkan, sudah seharusnya anak-anak mengetahui maksud dan esensi berkomunikasi lewat dunia maya.
Dari catatan penelitian sebelumnya, tercatat 62% anak-anak berbohong kepada orang tuanya tentang prilaku mereka yang berkaitan dengan dunia maya. Riset tersebut menjelaskan, rata-rata anak sebetulnya tidak memahami apa yang dia lakukan dan dampaknya terhadap mereka. Anak-anak dengan sukses mengelabui orang tua mereka dengan menyembunyikan apa yang sebenarnya dilakukan saat berada di dunia maya. cr2/rin
Label:
Budaya
|
0
komentar
Senin, 05 Oktober 2009
Ulama Banjar
01.54 | Diposting oleh
Unknown
Ulama Banjar adalah ulama yang berasal dari Tanah Banjar maupun berketurunan suku Banjar.
Diantaranya :
* Ulama yang sudah wafat :
1. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari/Datu Kalampaian, mufti Kesultanan Banjar,Kalsel
2. Syekh Muhammad Nafis al-Banjari/Datu Nafis, pengarang Kitab Ad-Durrun Nafis
3. Syekh Abdurrahman Siddiq/Datu Sapat, mufti Kerajaan Indragiri, Riau.
4. Yususf Saigon al-Banjari
5. Datu Sanggul
6. Datu Ambulung
7. Datu Nuraya
8. Guru Sekumpul
* Malaysia
1. Syekh Syihabuddin al-Banjari
2. Tuan Guru Muhammad Saman Bin Muhammad (1922-1995) Ustadz Mat Saman Kati, ulama tasawuf dari Perak, Malaysia
3. Dato Ishak Baharom, mantan mufti negeri Selangor.
4. Syekh Husein Kedah Al Banjari, mantan mufti negeri Kedah
Di Kalimantan Selatan, istilah Datu untuk ulama yang sudah wafat artinya sama dengan sebutan Sunan kalau di Jawa.
* Ulama Banjar masih hidup :
1. Guru Danau
2. Ustadz Muhammad Arifin Ilham
3. Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria, mufti negeri Perak, Malaysia
4. Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Abdullah AlBanjary AlMakky,salah satu ulama kontemporer madzhab syafi'ie di Nusantara, pengarang dan pentahqiq puluhan buku berbahasa Arab
Diantaranya :
* Ulama yang sudah wafat :
1. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari/Datu Kalampaian, mufti Kesultanan Banjar,Kalsel
2. Syekh Muhammad Nafis al-Banjari/Datu Nafis, pengarang Kitab Ad-Durrun Nafis
3. Syekh Abdurrahman Siddiq/Datu Sapat, mufti Kerajaan Indragiri, Riau.
4. Yususf Saigon al-Banjari
5. Datu Sanggul
6. Datu Ambulung
7. Datu Nuraya
8. Guru Sekumpul
* Malaysia
1. Syekh Syihabuddin al-Banjari
2. Tuan Guru Muhammad Saman Bin Muhammad (1922-1995) Ustadz Mat Saman Kati, ulama tasawuf dari Perak, Malaysia
3. Dato Ishak Baharom, mantan mufti negeri Selangor.
4. Syekh Husein Kedah Al Banjari, mantan mufti negeri Kedah
Di Kalimantan Selatan, istilah Datu untuk ulama yang sudah wafat artinya sama dengan sebutan Sunan kalau di Jawa.
* Ulama Banjar masih hidup :
1. Guru Danau
2. Ustadz Muhammad Arifin Ilham
3. Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria, mufti negeri Perak, Malaysia
4. Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Abdullah AlBanjary AlMakky,salah satu ulama kontemporer madzhab syafi'ie di Nusantara, pengarang dan pentahqiq puluhan buku berbahasa Arab
Sabtu, 03 Oktober 2009
Penyebaran suku bangsa Banjar
01.49 | Diposting oleh
Unknown
Penyebaran suku bangsa Banjar
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Keadaan geomorfologis Nusantara tempo dulu sangat berbeda, dimana telah terjadi pendangkalan lautan menjadi daratan. Misalnya pantai masih dekat dengan kota Palembang, demikian pula daerah Simongan, Semarang masih merupakan pantai, sedangkan kota Kudus masih berada di pulau Muria terpisah dari daratan pulau Jawa. Keadaan Geomorfologis pada masa itu juga mempengaruhi penyebaran suku-suku bangsa di Kalimantan. Pada zaman purba pulau Kalimantan bagian selatan dan tengah merupakan sebuah teluk raksasa. Kalimantan Selatan merupakan sebuah tanjung, sehingga disebut pulau Hujung Tanah dalam Hikayat Banjar dan disebut Tanjung Negara dalam kitab Negarakertagama. Seperti dalam gambaran Kitab Negarakertagama, Sungai Barito dan Sungai Tabalong pada zaman itu masih merupakan dua sungai yang terpisah yang bermuara ke teluk tersebut. Pusat-pusat pemukiman kuno pada masa itu terletak di daerah yang sekarang merupakan wilayah sepanjang kaki pegunungan di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Ini berarti bahwa telah terjadi perluasan daratan Kalimantan ke arah laut Jawa sejak ribuan tahun lalu. Menurut pendapat umum, pengaruh Melayu kepada masyarakat Kalimantan lebih dulu terjadi sebelum datangnya pengaruh dari Jawa. Orang Brunei pun juga menyatakan dirinya sebagai keturunan suku Sakai dari pulau Andalas (Sumatera). Diperkirakan suku Kedayan (Brunei), suku Banjar dan beberapa suku yang ada di Kalimantan Barat yang sering disebut kelompok Melayu Lokal, kemungkinan berasal dari satu kelompok induk yang sama (Proto Melayu) yang telah terpisah ratusan tahun dan sebelumnya menyeberang dari pulau Sumatera, kemudian bercampur dengan orang pribumi (Dayak) di daerah masing-masing. Hal ini dapat diketahui dari persamaan beberapa kosa kata dari bahasa Kedayan dan bahasa Banjar, seperti kata bepadah (memberitahu), tatak (potong), tarabah (terjatuh), dan sebagainya. Pengaruh Melayu juga kita dapatkan pada dialek Bahasa Banjar Amuntai dan Banjarmasin yang mengucapkan huruf r dengan cadel. Pendapat lain menyatakan bahwa pulau Borneo (terutama Kalimantan Barat) adalah tanah asal usul bahasa Melayu, karena banyaknya jenis bahasa Melayu Lokal yang berkembang seperti Sarawak, Iban, Selako, Ketapang, dan Sambas. Diperkirakan kelompok Melayu (baca: Proto Malayic) inilah yang datang pada migrasi ke II yang mendesak kelompok Melanesia (nenek moyang Papua) yang datang pada migrasi I, akhirnya keluar dari Borneo. Tetapi kemudian kelompok Proto Malayic (Iban) terdesak oleh nenek moyang Dayak (migrasi III) yang datang dari pulau Formoso dengan membawa adat pemotongan kepala (ngayau/pengayauan) sehingga sebagian kelompok Proto Malayic migrasi keluar dari Borneo. Proto Malayic menurunkan Proto Malay yang menggunakan bahasa Melayu Lokal (Bukit, Banjar, Kutai dan lain-lain). Sedangkan Proto Malay (Proto Melayu) menurunkan suku Melayu yang ada sekarang ini. Demikian pula ada sebagian kelompok Dayak (Maanyan) yang migrasi menuju Madagaskar.
Melayu (Orang Pahuluan)
Migrasi penduduk ke pulau Borneo telah terjadi sejak tahun 400 yang dibuktikan dengan adanya prasasti yupa peninggalan Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur yang menunjukkan adanya masyarakat pendatang yang membawa agama Hindu ke daerah tersebut. Demikian pula di daerah Kalimantan Selatan juga mengalami jejak migrasi penduduk yang panjang. Menurut pendapat sebagian ahli sejarah, orang melayu (melayu kuno) telah datang ke daerah ini pada sekitar abad ke-6. Diperkirakan orang melayu datang melalui selat Karimata yang memisahkan pulau Belitung dengan wilayah kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat yang penduduknya saat ini dikenal dengan sebutan orang Melayu Ketapang. Di sungai Amas, Kabupaten Tapin telah ditemukannya patung Buddha Dipamkara (ketenangan air) yang sering dibawa oleh pelaut dan juga sebuah batu terpotong bertuliskan aksara Pallawa, Siddha (mungkin selengkapnya Jaya Siddha Yatra/Perjalanan yang Mencapai Keberhasilan) menunjukkan pengaruh agama Buddha dan migrasi orang Melayu dari Kerajaan Melayu maupun Sriwijaya abad ke-7 atau sebelumnya.
Ketika para imigran orang Melayu (melayu kuno) tersebut yang kemudian dinamakan orang Pahuluan bermigrasi ke wilayah ini (Kalsel), mereka mendarat di sepanjang pesisir sebelah timur teluk raksasa tersebut, dan memasuki sungai-sungai yang berhulu di sepanjang sisi barat pegunungan Meratus dan mendesak suku Maanyan (Dayak Mongoloid) ke arah hulu sungai Tabalong dan sungai Balangan serta mendesak kedudukan Urang Bukit ke hulu sungai di pegunungan Meratus yaitu ke hulu sungai Pitap, sungai Batang Alai, sungai Labuan Amas, sungai Amandit, sungai Tapin, sungai Riam Kanan dan sungai Riam Kiwa. Suku Bukit sebenarnya merupakan orang melayu kuno (Dayak Melayunoid) yang telah datang pada gelombang pertama ke wilayah ini. Jadi Suku Bukit dan suku Maanyan sebelumnya tinggal lebih ke hilir (dekat pesisir pantai) daripada tempat tinggalnya yang sekarang. Orang Pahuluan mendirikan pemukiman yang terpisah dengan orang Bukit dan orang Maanyan. Sebagian orang Pahuluan tersebut mendarat di sekitar kota Tanjung, Tabalong sekarang ini dan mendirikan Kerajaan Tanjung Puri yang di masa tersebut terletak di tidak jauh dari pantai, mereka bertetangga dengan suku Dayak Maanyan yang tinggal di sekitarnya (Tanta, Tabalong).
Menurut sebagian pendapat yang lainnya menyatakan bahwa orang-orang Dayak Meratus (suku Bukit) berasal dari moyang orang Banjar Hulu yang bergerak naik ke dataran tinggi sebelum etnik Banjar itu sendiri terbentuk.
Di wilayah pegunungan Meratus di Kabupaten Balangan merupakan perbatasan antara wilayah pengaruh suku Dayak Maanyan dan suku Dayak Bukit, yaitu suku Dusun Balangan (Dayak Maanyan) yang tinggal hulu sungai Balangan, kecamatan Halong, Balangan di berbatasan dengan orang Dayak Pitap (Dayak Bukit) yang tinggal di hulu sungai Pitap, kecamatan Awayan, Balangan. Suku Bukit tidak mengenal adat ngayau seperti pada kebanyakan suku Dayak, dan mereka tinggal secara komunal dalam "balai" yang bentuk hunian memusat. Hal tersebut kemungkinan suku Bukit (Dayak Bukit) berbeda asalnya dengan suku Dayak rumpun Ot Danum yang diduga berasal dari Formosa (Penduduk Pribumi Taiwan) yang membawa adat ngayau (pemenggalan kepala).
Dayak Maanyan
Suku Dayak Maanyan (Kelompok Barito Timur) bermigrasi datang dari arah timur Kalimantan Tengah dekat pegunungan Meratus dan karena tempat tinggal sebelumnya dekat laut, suku Maanyan telah melakukan pelayaran hingga ke Madagaskar sekitar tahun 600. Setelah berabad-abad sekarang wilayah suku Maanyan di Barito Timur sangat jauh dari laut karena adanya pendangkalan tersebut. Suku Maanyan dan suku Bukit yang sebelumnya tinggal dekat laut seolah-olah terjebak di daratan dan kehilangan budaya maritim yang mereka miliki sebelumnya.
Wilayah Majapahit
Menurut Kitab Negarakertagama, wilayah lembah sungai Tabalong dan Barito merupakan propinsi Majapahit di kawasan ini. Wilayah Tabalong secara intensif mendapat pengaruh dari pendatang, sehingga berdiri beberapa kerajaan di wilayah ini. Wilayah Tabalong semula merupakan pemukiman Suku Dayak Maanyan. Sedangkan sebagian wilayah Barito (Tanah Dusun) pada umumnya merupakan pemukiman dari "Orang Dusun" (Dusun, Manyan, Lawangan, dan suku serumpunnya). Kecuali di hilirnya yang merupakan keturunan suku Dayak Ngaju yaitu suku Dayak Bara Dia (Mangkatip) dan Suku Dayak Bakumpai. Suku Dayak Ngaju (Kelompok Barito Barat) bermigrasi dari arah barat Kalimantan Tengah. Suku Ngaju ("Orang Dayak") merupakan keturunan dari suku Dayak Ot Danum yang tinggal dari sebelah hulu sungai-sungai besar di wilayah tersebut. Kelompok dari Suku Dayak Ngaju yang banyak mendapat pengaruh pendatang adalah suku Dayak Bakumpai dan Barangas. Belakangan pengaruh agama Islam menjadi ciri bagi Suku Dayak Bakumpai dan Barangas.
Orang Batang Banyu
Permukiman orang Pahuluan yang semula merupakan daerah pesisir terletak tidak jauh pantai, sekarang menjadi wilayah sepanjang kaki pegunungan Meratus yang sekarang menjadi kota-kota Tanjung, Paringin, Batu Mandi, Birayang, Barabai, Pantai Hambawang (Labuan Amas), Rantau, Binuang, Karang Intan (Kayu Tangi), Pelaihari dan sebagainya. Mereka mendirikan kampung-kampung bubuhan yang masing-masing berdiri sendiri, diantaranya diperkirakan berhasil membentuk pemerintahan lokal yaitu sebuah "kerajaan bubuhan". Setelah sekian lama berlalu, sebagian Orang Pahuluan akhirnya bermigrasi ke arah hilir menuju dataran rendah aluvial berawa-rawa di lembah sungai Negara (Batang Banyu) yang telah mengalami pendangkalan.
Pada abad ke-14 di wilayah tersebut terbentuk kerajaan yang didirikan Ampu Jatmika, saudagar dari negeri Keling yang membawa agama Hindu dan mendirikan Candi Laras di daerah Margasari, selanjutnya setelah menaklukan daerah lima aliran sungai yaitu Batang Alai, Tabalong, Balangan, Pitap dan Amandit yang dinamakan daerah Banua Lima, dia kemudian menaklukan wilayah perbukitan yang dihuni orang Bukit (keturunan melayu kuno) dan orang Maanyan (keturunan Ot Danum). Setelah itu dia kemudian mendirikan Candi Agung di Amuntai. Candi-candi tersebut didirikan dengan tiang pancang ulin maupun dengan teknik konstruksi kalang sunduk yang menyesuaikan dengan kondisi tanah lahan basah yang selalu terendam di kala air pasang. Pada masa tersebut beberapa "kerajaan bubuhan" yang merupakan wilayah pemukiman yang masih keturunan sedatuk akhirnya berhasil disatukan dalam satu kesatuan politik yang lebih kuat yaitu "Kerajaan Negara Dipa".
Sekitar tahun 1362 wilayah ini menjadi taklukan Majapahit. Inilah pemukiman masyarakat pendatang dengan pusat keraton yang memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan penduduk asli. Hunian di tepi sungai Negara (sungai Bahan) ini semula terpisah dengan pemukiman orang Pahuluan, orang Bukit (Dayak Melayunoid) maupun orang Maanyan (Dayak Mongoloid) tetapi oleh diffusi kebudayaan keraton Hindu yang dianggap sebagai kebudayaan lebih maju pada zamannya, maka etnis penduduk yang lebih asli tersebut ikut bercampur ke dalam budaya masyarakat Hindu tersebut yang terdiri dan orang Melayu Hindu dan orang Jawa Hindu, percampuran etnis inilah yang merupakan masyarakat "Dayak Heteronoid" yang heterogen yang disebut orang Batang Banyu. "Dayak campuran" seperti ini juga terdapat pada suku Dayak Mualang di Kalbar.
Masyarakat kerajaan Hindu inilah yang juga menjadi cikal bakal suku Banjar yang mungkin dapat kita namakan sebagai orang Hindu Batangbanyu (orang Banjar Hindu). Bahasa yang digunakan di wilayah Batangbanyu sejak abad ke-13 telah mendapat pengaruh bahasa Jawa-Majapahit misalnya kata lawang (pintu), anum (muda) yang berasal dari bahasa Jawa, sedangkan orang Bukit yang tinggal di pegunungan jauh dari pesisir tetap menggunakan beberapa kosa kata bahasa Melayu seperti pintu, muda, dinding, kunyit, padi, balai, dan sebagainya.
Banjar
Wilayah Batang Banyu di Hulu Sungai yaitu daerah tepian sungai Negara dari Kelua hingga muaranya di sungai Barito terdiri dari daerah Margasari dan wilayah Banua Lima terdiri dari kota-kota Kelua, Sungai Banar, Amuntai, Alabio, dan Negara.
Dari wilayah inilah "masyarakat Batangbanyu" dipimpin salah seorang bangsawan pelarian dari Kerajaan Hindu (Kerajaan Negara Daha) bermigrasi ke hilir membentuk pusat kerajaan baru dekat muara sungai Barito yaitu di kampung Banjarmasih yang merupakan "enclave" perkampungan masyarakat pendatang terdiri dari orang Melayu dan orang Jawa. Perkampungan ini terletak diantara mayoritas perkampungan orang Barangas (Ngaju), selanjutnya berdatangan imigran pendatang baru secara bergelombang hingga terbentuklah Kesultanan Banjarmasih yang juga menimbulkan diffusi kebudayaan keraton kepada masyarakat sekitarnya (orang Barangas).
Dengan berdirinya Kesultanan Banjar maka sesudah tahun 1526 terbentuklah masyarakat yang disebut orang Banjar (Kuala) yang merupakan amalgamasi dari unsur-unsur Melayu, Jawa, Bukit, Maanyan, Ngaju dan suku-suku kecil lainnya. Islamisasi ke pedalaman (Hulu Sungai) begitu intensif sesudah tahun 1526, dan wilayah Kerajaan Negara Daha berhasil ditaklukan sepenuhnya. Sejak tahun 1526 pusat Kerajaan Negara Daha ini dipindahkan oleh Maharaja Tumenggung ke daerah Alai di pedalaman. Berita dari Kesultanan Pasir mengatakan bahwa karena kemelut yang terjadi di kerajaan Kuripan-Daha sekitar tahun 1565, pelarian dari kerajaan tersebut yaitu Tumenggung Duyung dan Tumenggung Tukiu telah mendirikan kerajaan Sadurangas (Pasir) di Kalimantan Timur.
Dengan diterimanya agama Islam oleh orang Pahuluan dan orang (Hindu) Batangbanyu sesudah tahun 1526 maka sebutan orang Pahuluan dan orang (Hindu) Batangbanyu dapat kita namakan dengan sebutan orang Banjar Pahuluan dan orang Banjar Batangbanyu, sedangkan orang Bukit (urang Bukit) yang sebenarnya masih keturunan Melayu (Dayak Melayunoid) tetap teguh mempertahankan agama suku dan belum menerima agama Islam, maka mereka dikategorikan sebagai "dayak" dengan sebutan Dayak Bukit. Orang Maanyan yang sejak semula menganut agama Kaharingan memang penduduk asli Borneo (orang Dayak), yaitu keturunan Dayak rumpun Ot Danum (Dayak Mongoloid). Suku Banjar merupakan kumpulan etnis yang besar dan kompleks, jadi berbeda dengan suku Dayak Bakumpai, suku Dayak Bara Dia, suku Dayak Dusun Deyah, suku Dayak Maanyan, Suku Dayak Dusun Witu dan lain-lain, masing-masing suku ini merupakan suku yang masih seketurunan sedatuk yang geneologis dan jumlahnya relatif lebih sedikit dari suku Banjar.
Dari wilayah Kalimantan Selatan, suku Banjar bermigrasi ke wilayah lainnya di Kalimantan.
Migrasi
Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Kesultanan Pasir Belengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.
Migrasi ke Kalimantan Tengah
Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta'inbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.
Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (GustiInu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.
Migrasi ke Sumatera
Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Kesultanan Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura yang menjabat sebagai Mufti Kesultanan Indragiri.
Migrasi ke Malaysia
Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah(Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Negeri Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.
Pembagian Suku Banjar
Sebutan Orang Banjar mulai digunakan sesudah tahun 1526 sejalan dengan proses islamisasi di wilayah inti Kesultanan Banjar sehingga terbentuklah 3 kelompok suku Banjar berdasarkan persfektif historisnya dengan melihat kawasan teritorialnya dan unsur pembentuknya maka suku Banjar dibagi menjadi :
* Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
* Banjar Batang Banyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
* Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)
Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan, dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Keadaan geomorfologis Nusantara tempo dulu sangat berbeda, dimana telah terjadi pendangkalan lautan menjadi daratan. Misalnya pantai masih dekat dengan kota Palembang, demikian pula daerah Simongan, Semarang masih merupakan pantai, sedangkan kota Kudus masih berada di pulau Muria terpisah dari daratan pulau Jawa. Keadaan Geomorfologis pada masa itu juga mempengaruhi penyebaran suku-suku bangsa di Kalimantan. Pada zaman purba pulau Kalimantan bagian selatan dan tengah merupakan sebuah teluk raksasa. Kalimantan Selatan merupakan sebuah tanjung, sehingga disebut pulau Hujung Tanah dalam Hikayat Banjar dan disebut Tanjung Negara dalam kitab Negarakertagama. Seperti dalam gambaran Kitab Negarakertagama, Sungai Barito dan Sungai Tabalong pada zaman itu masih merupakan dua sungai yang terpisah yang bermuara ke teluk tersebut. Pusat-pusat pemukiman kuno pada masa itu terletak di daerah yang sekarang merupakan wilayah sepanjang kaki pegunungan di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Ini berarti bahwa telah terjadi perluasan daratan Kalimantan ke arah laut Jawa sejak ribuan tahun lalu. Menurut pendapat umum, pengaruh Melayu kepada masyarakat Kalimantan lebih dulu terjadi sebelum datangnya pengaruh dari Jawa. Orang Brunei pun juga menyatakan dirinya sebagai keturunan suku Sakai dari pulau Andalas (Sumatera). Diperkirakan suku Kedayan (Brunei), suku Banjar dan beberapa suku yang ada di Kalimantan Barat yang sering disebut kelompok Melayu Lokal, kemungkinan berasal dari satu kelompok induk yang sama (Proto Melayu) yang telah terpisah ratusan tahun dan sebelumnya menyeberang dari pulau Sumatera, kemudian bercampur dengan orang pribumi (Dayak) di daerah masing-masing. Hal ini dapat diketahui dari persamaan beberapa kosa kata dari bahasa Kedayan dan bahasa Banjar, seperti kata bepadah (memberitahu), tatak (potong), tarabah (terjatuh), dan sebagainya. Pengaruh Melayu juga kita dapatkan pada dialek Bahasa Banjar Amuntai dan Banjarmasin yang mengucapkan huruf r dengan cadel. Pendapat lain menyatakan bahwa pulau Borneo (terutama Kalimantan Barat) adalah tanah asal usul bahasa Melayu, karena banyaknya jenis bahasa Melayu Lokal yang berkembang seperti Sarawak, Iban, Selako, Ketapang, dan Sambas. Diperkirakan kelompok Melayu (baca: Proto Malayic) inilah yang datang pada migrasi ke II yang mendesak kelompok Melanesia (nenek moyang Papua) yang datang pada migrasi I, akhirnya keluar dari Borneo. Tetapi kemudian kelompok Proto Malayic (Iban) terdesak oleh nenek moyang Dayak (migrasi III) yang datang dari pulau Formoso dengan membawa adat pemotongan kepala (ngayau/pengayauan) sehingga sebagian kelompok Proto Malayic migrasi keluar dari Borneo. Proto Malayic menurunkan Proto Malay yang menggunakan bahasa Melayu Lokal (Bukit, Banjar, Kutai dan lain-lain). Sedangkan Proto Malay (Proto Melayu) menurunkan suku Melayu yang ada sekarang ini. Demikian pula ada sebagian kelompok Dayak (Maanyan) yang migrasi menuju Madagaskar.
Melayu (Orang Pahuluan)
Migrasi penduduk ke pulau Borneo telah terjadi sejak tahun 400 yang dibuktikan dengan adanya prasasti yupa peninggalan Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur yang menunjukkan adanya masyarakat pendatang yang membawa agama Hindu ke daerah tersebut. Demikian pula di daerah Kalimantan Selatan juga mengalami jejak migrasi penduduk yang panjang. Menurut pendapat sebagian ahli sejarah, orang melayu (melayu kuno) telah datang ke daerah ini pada sekitar abad ke-6. Diperkirakan orang melayu datang melalui selat Karimata yang memisahkan pulau Belitung dengan wilayah kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat yang penduduknya saat ini dikenal dengan sebutan orang Melayu Ketapang. Di sungai Amas, Kabupaten Tapin telah ditemukannya patung Buddha Dipamkara (ketenangan air) yang sering dibawa oleh pelaut dan juga sebuah batu terpotong bertuliskan aksara Pallawa, Siddha (mungkin selengkapnya Jaya Siddha Yatra/Perjalanan yang Mencapai Keberhasilan) menunjukkan pengaruh agama Buddha dan migrasi orang Melayu dari Kerajaan Melayu maupun Sriwijaya abad ke-7 atau sebelumnya.
Ketika para imigran orang Melayu (melayu kuno) tersebut yang kemudian dinamakan orang Pahuluan bermigrasi ke wilayah ini (Kalsel), mereka mendarat di sepanjang pesisir sebelah timur teluk raksasa tersebut, dan memasuki sungai-sungai yang berhulu di sepanjang sisi barat pegunungan Meratus dan mendesak suku Maanyan (Dayak Mongoloid) ke arah hulu sungai Tabalong dan sungai Balangan serta mendesak kedudukan Urang Bukit ke hulu sungai di pegunungan Meratus yaitu ke hulu sungai Pitap, sungai Batang Alai, sungai Labuan Amas, sungai Amandit, sungai Tapin, sungai Riam Kanan dan sungai Riam Kiwa. Suku Bukit sebenarnya merupakan orang melayu kuno (Dayak Melayunoid) yang telah datang pada gelombang pertama ke wilayah ini. Jadi Suku Bukit dan suku Maanyan sebelumnya tinggal lebih ke hilir (dekat pesisir pantai) daripada tempat tinggalnya yang sekarang. Orang Pahuluan mendirikan pemukiman yang terpisah dengan orang Bukit dan orang Maanyan. Sebagian orang Pahuluan tersebut mendarat di sekitar kota Tanjung, Tabalong sekarang ini dan mendirikan Kerajaan Tanjung Puri yang di masa tersebut terletak di tidak jauh dari pantai, mereka bertetangga dengan suku Dayak Maanyan yang tinggal di sekitarnya (Tanta, Tabalong).
Menurut sebagian pendapat yang lainnya menyatakan bahwa orang-orang Dayak Meratus (suku Bukit) berasal dari moyang orang Banjar Hulu yang bergerak naik ke dataran tinggi sebelum etnik Banjar itu sendiri terbentuk.
Di wilayah pegunungan Meratus di Kabupaten Balangan merupakan perbatasan antara wilayah pengaruh suku Dayak Maanyan dan suku Dayak Bukit, yaitu suku Dusun Balangan (Dayak Maanyan) yang tinggal hulu sungai Balangan, kecamatan Halong, Balangan di berbatasan dengan orang Dayak Pitap (Dayak Bukit) yang tinggal di hulu sungai Pitap, kecamatan Awayan, Balangan. Suku Bukit tidak mengenal adat ngayau seperti pada kebanyakan suku Dayak, dan mereka tinggal secara komunal dalam "balai" yang bentuk hunian memusat. Hal tersebut kemungkinan suku Bukit (Dayak Bukit) berbeda asalnya dengan suku Dayak rumpun Ot Danum yang diduga berasal dari Formosa (Penduduk Pribumi Taiwan) yang membawa adat ngayau (pemenggalan kepala).
Dayak Maanyan
Suku Dayak Maanyan (Kelompok Barito Timur) bermigrasi datang dari arah timur Kalimantan Tengah dekat pegunungan Meratus dan karena tempat tinggal sebelumnya dekat laut, suku Maanyan telah melakukan pelayaran hingga ke Madagaskar sekitar tahun 600. Setelah berabad-abad sekarang wilayah suku Maanyan di Barito Timur sangat jauh dari laut karena adanya pendangkalan tersebut. Suku Maanyan dan suku Bukit yang sebelumnya tinggal dekat laut seolah-olah terjebak di daratan dan kehilangan budaya maritim yang mereka miliki sebelumnya.
Wilayah Majapahit
Menurut Kitab Negarakertagama, wilayah lembah sungai Tabalong dan Barito merupakan propinsi Majapahit di kawasan ini. Wilayah Tabalong secara intensif mendapat pengaruh dari pendatang, sehingga berdiri beberapa kerajaan di wilayah ini. Wilayah Tabalong semula merupakan pemukiman Suku Dayak Maanyan. Sedangkan sebagian wilayah Barito (Tanah Dusun) pada umumnya merupakan pemukiman dari "Orang Dusun" (Dusun, Manyan, Lawangan, dan suku serumpunnya). Kecuali di hilirnya yang merupakan keturunan suku Dayak Ngaju yaitu suku Dayak Bara Dia (Mangkatip) dan Suku Dayak Bakumpai. Suku Dayak Ngaju (Kelompok Barito Barat) bermigrasi dari arah barat Kalimantan Tengah. Suku Ngaju ("Orang Dayak") merupakan keturunan dari suku Dayak Ot Danum yang tinggal dari sebelah hulu sungai-sungai besar di wilayah tersebut. Kelompok dari Suku Dayak Ngaju yang banyak mendapat pengaruh pendatang adalah suku Dayak Bakumpai dan Barangas. Belakangan pengaruh agama Islam menjadi ciri bagi Suku Dayak Bakumpai dan Barangas.
Orang Batang Banyu
Permukiman orang Pahuluan yang semula merupakan daerah pesisir terletak tidak jauh pantai, sekarang menjadi wilayah sepanjang kaki pegunungan Meratus yang sekarang menjadi kota-kota Tanjung, Paringin, Batu Mandi, Birayang, Barabai, Pantai Hambawang (Labuan Amas), Rantau, Binuang, Karang Intan (Kayu Tangi), Pelaihari dan sebagainya. Mereka mendirikan kampung-kampung bubuhan yang masing-masing berdiri sendiri, diantaranya diperkirakan berhasil membentuk pemerintahan lokal yaitu sebuah "kerajaan bubuhan". Setelah sekian lama berlalu, sebagian Orang Pahuluan akhirnya bermigrasi ke arah hilir menuju dataran rendah aluvial berawa-rawa di lembah sungai Negara (Batang Banyu) yang telah mengalami pendangkalan.
Pada abad ke-14 di wilayah tersebut terbentuk kerajaan yang didirikan Ampu Jatmika, saudagar dari negeri Keling yang membawa agama Hindu dan mendirikan Candi Laras di daerah Margasari, selanjutnya setelah menaklukan daerah lima aliran sungai yaitu Batang Alai, Tabalong, Balangan, Pitap dan Amandit yang dinamakan daerah Banua Lima, dia kemudian menaklukan wilayah perbukitan yang dihuni orang Bukit (keturunan melayu kuno) dan orang Maanyan (keturunan Ot Danum). Setelah itu dia kemudian mendirikan Candi Agung di Amuntai. Candi-candi tersebut didirikan dengan tiang pancang ulin maupun dengan teknik konstruksi kalang sunduk yang menyesuaikan dengan kondisi tanah lahan basah yang selalu terendam di kala air pasang. Pada masa tersebut beberapa "kerajaan bubuhan" yang merupakan wilayah pemukiman yang masih keturunan sedatuk akhirnya berhasil disatukan dalam satu kesatuan politik yang lebih kuat yaitu "Kerajaan Negara Dipa".
Sekitar tahun 1362 wilayah ini menjadi taklukan Majapahit. Inilah pemukiman masyarakat pendatang dengan pusat keraton yang memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan penduduk asli. Hunian di tepi sungai Negara (sungai Bahan) ini semula terpisah dengan pemukiman orang Pahuluan, orang Bukit (Dayak Melayunoid) maupun orang Maanyan (Dayak Mongoloid) tetapi oleh diffusi kebudayaan keraton Hindu yang dianggap sebagai kebudayaan lebih maju pada zamannya, maka etnis penduduk yang lebih asli tersebut ikut bercampur ke dalam budaya masyarakat Hindu tersebut yang terdiri dan orang Melayu Hindu dan orang Jawa Hindu, percampuran etnis inilah yang merupakan masyarakat "Dayak Heteronoid" yang heterogen yang disebut orang Batang Banyu. "Dayak campuran" seperti ini juga terdapat pada suku Dayak Mualang di Kalbar.
Masyarakat kerajaan Hindu inilah yang juga menjadi cikal bakal suku Banjar yang mungkin dapat kita namakan sebagai orang Hindu Batangbanyu (orang Banjar Hindu). Bahasa yang digunakan di wilayah Batangbanyu sejak abad ke-13 telah mendapat pengaruh bahasa Jawa-Majapahit misalnya kata lawang (pintu), anum (muda) yang berasal dari bahasa Jawa, sedangkan orang Bukit yang tinggal di pegunungan jauh dari pesisir tetap menggunakan beberapa kosa kata bahasa Melayu seperti pintu, muda, dinding, kunyit, padi, balai, dan sebagainya.
Banjar
Wilayah Batang Banyu di Hulu Sungai yaitu daerah tepian sungai Negara dari Kelua hingga muaranya di sungai Barito terdiri dari daerah Margasari dan wilayah Banua Lima terdiri dari kota-kota Kelua, Sungai Banar, Amuntai, Alabio, dan Negara.
Dari wilayah inilah "masyarakat Batangbanyu" dipimpin salah seorang bangsawan pelarian dari Kerajaan Hindu (Kerajaan Negara Daha) bermigrasi ke hilir membentuk pusat kerajaan baru dekat muara sungai Barito yaitu di kampung Banjarmasih yang merupakan "enclave" perkampungan masyarakat pendatang terdiri dari orang Melayu dan orang Jawa. Perkampungan ini terletak diantara mayoritas perkampungan orang Barangas (Ngaju), selanjutnya berdatangan imigran pendatang baru secara bergelombang hingga terbentuklah Kesultanan Banjarmasih yang juga menimbulkan diffusi kebudayaan keraton kepada masyarakat sekitarnya (orang Barangas).
Dengan berdirinya Kesultanan Banjar maka sesudah tahun 1526 terbentuklah masyarakat yang disebut orang Banjar (Kuala) yang merupakan amalgamasi dari unsur-unsur Melayu, Jawa, Bukit, Maanyan, Ngaju dan suku-suku kecil lainnya. Islamisasi ke pedalaman (Hulu Sungai) begitu intensif sesudah tahun 1526, dan wilayah Kerajaan Negara Daha berhasil ditaklukan sepenuhnya. Sejak tahun 1526 pusat Kerajaan Negara Daha ini dipindahkan oleh Maharaja Tumenggung ke daerah Alai di pedalaman. Berita dari Kesultanan Pasir mengatakan bahwa karena kemelut yang terjadi di kerajaan Kuripan-Daha sekitar tahun 1565, pelarian dari kerajaan tersebut yaitu Tumenggung Duyung dan Tumenggung Tukiu telah mendirikan kerajaan Sadurangas (Pasir) di Kalimantan Timur.
Dengan diterimanya agama Islam oleh orang Pahuluan dan orang (Hindu) Batangbanyu sesudah tahun 1526 maka sebutan orang Pahuluan dan orang (Hindu) Batangbanyu dapat kita namakan dengan sebutan orang Banjar Pahuluan dan orang Banjar Batangbanyu, sedangkan orang Bukit (urang Bukit) yang sebenarnya masih keturunan Melayu (Dayak Melayunoid) tetap teguh mempertahankan agama suku dan belum menerima agama Islam, maka mereka dikategorikan sebagai "dayak" dengan sebutan Dayak Bukit. Orang Maanyan yang sejak semula menganut agama Kaharingan memang penduduk asli Borneo (orang Dayak), yaitu keturunan Dayak rumpun Ot Danum (Dayak Mongoloid). Suku Banjar merupakan kumpulan etnis yang besar dan kompleks, jadi berbeda dengan suku Dayak Bakumpai, suku Dayak Bara Dia, suku Dayak Dusun Deyah, suku Dayak Maanyan, Suku Dayak Dusun Witu dan lain-lain, masing-masing suku ini merupakan suku yang masih seketurunan sedatuk yang geneologis dan jumlahnya relatif lebih sedikit dari suku Banjar.
Dari wilayah Kalimantan Selatan, suku Banjar bermigrasi ke wilayah lainnya di Kalimantan.
Migrasi
Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Kesultanan Pasir Belengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.
Migrasi ke Kalimantan Tengah
Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta'inbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.
Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (GustiInu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.
Migrasi ke Sumatera
Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Kesultanan Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura yang menjabat sebagai Mufti Kesultanan Indragiri.
Migrasi ke Malaysia
Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah(Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Negeri Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.
Pembagian Suku Banjar
Sebutan Orang Banjar mulai digunakan sesudah tahun 1526 sejalan dengan proses islamisasi di wilayah inti Kesultanan Banjar sehingga terbentuklah 3 kelompok suku Banjar berdasarkan persfektif historisnya dengan melihat kawasan teritorialnya dan unsur pembentuknya maka suku Banjar dibagi menjadi :
* Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
* Banjar Batang Banyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
* Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)
Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan, dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.
Asal usul suku Banjar
01.45 | Diposting oleh
Unknown
Asal usul suku Banjar
Suku bangsa Banjar diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).
Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura).
Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.
Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.
Banjar Pahuluan
Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur.
Jadi meskipun kelompok suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri.
Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya.
Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya
Banjar Batang Banyu
Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah.
Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar.
Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.
Banjar Kuala
Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar.
Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju , yang seperti halnya dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan , banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam.
Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.
(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)
Inti Suku Banjar
Menurut Alfani Daud (Islam dan Masyarakat Banjar, 1997), inti suku Banjar adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya, sedangkan menurut Idwar Saleh justru penduduk asli suku Dayak (yang kemudian bercampur membentuk kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa Indonesia-nya).
Menurut Idwar Saleh (Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986): " Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton....Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan-etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya".
Selanjutnya menurut Idwar Saleh (makalah Perang Banjar 1859-1865, 1991): "Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia".
Maka dapat diambil kesimpulan bahwa Suku Banjar terbagi 3 subetnis berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku berdasarkan persfeketif kultural dan genetis yang menggambarkan masuknya penduduk pendatang ke wilayah penduduk asli Dayak:
1. Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
2. Banjar Batangbanyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
3. Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)
Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya (Kelompok Barito Barat) yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya (Kelompok Barito Timur) seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.
Agama Islam dan suku Banjar
Menurut Alfani Daud (1997:6):
"Islam telah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak berabad-abad yang silam. Islam juga telah menjadi identitas mereka, yang membedakannya dengan kelompok-kelompok Dayak yang ada di sekitarnya, yang umumnya masih menganut religi sukunya. Memeluk Islam merupakan kebanggaan tersendiri, setidak-tidaknya dahulu, sehingga berpindah agama di kalangan masyarakat Dayak dikatakan sebagai "babarasih" (membersihkan diri) di samping menjadi orang Banjar."
Menurut Irfan Noor dalam "Islam dan Universum simbolik Urang Banjar" bahwa : Masyarakat Banjar bukanlah suatu yang hadir begitu saja, tapi ia merupakan konstruksi historis secara sosial suatu kelompok manusia yang menginginkan suatu komunitas tersendiri dari komunitas yang ada di kepulauan Kalimantan. Selanjutnya menurutnya : Etnik Banjar merupakan bentuk pertemuan berbagai kelompok etnik yang memiliki asal usul beragam yang dihasilkan dari sebuah proses sosial masyarakat yang ada di daerah ini dengan titiuk berangkat pada proses Islamisasi yang dilakukan oleh Demak sebagai syarat berdirinya Kesultanan Banjar. Menurtnya pula : "Banjar" sebelum berdirinya Kesultanan Islam Banjar belumlah bisa dikatakan sebagai sebuah ksesatuan identitas suku atau agama, namun lebih tepat merupakan identitas yang merujuk pada kawasan teritorial tertentu yang menjadi tempat tinggal.
Suku Banjar di Kalimantan Timur
Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku Melayu, merupakan 15 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Suku Banjar Kaltim lebih banyak populasinya dibandingkan suku Kutai, maupun suku Dayak setempat. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara dan Jempang, Kutai Barat, Samarinda Ulu, Samarinda, Samarinda Ilir, Samarinda (Samarinda), Balikpapan, Tarakan dan di muara sungai Kelai, Berau.
Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau (ayahanda Puteri Petung) dari Kerajaan Kuripan (versi lainnya dari Kerajaan Bagalong di Kelua, Tabalong) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas (Kesultanan Pasir) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Organisasi Suku Banjar di Kalimantan Timur adalah Kerukunan Bubuhan Banjar-Kalimantan Timur (KBB-KT).
Suku Banjar di Kalimantan Tengah
Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak Bakumpai, Suku Dayak Sampit dan lain-lain. Perkampungan suku Banjar Kalteng terutama terdapat daerah kuala dari sungai Mentaya, Kotawaringin Timur dan sungai Seruyan, Seruyan misalnya desa Tanjungrangas dan Pematangpanjang.
Migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta'inbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama [[Pangeran Adipati Antakusuma.
Suku Banjar yang datang dari lembah sungai Negara (wilayah Batang Banyu) terutama orang Negara (urang Nagara) yang datang dari Kota Negara (bekas ibukota Kerajaan Negara Daha), kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan telah cukup lama mendiami wilayah Kahayan Kuala, Pulang Pisau, yang kemudian disusul orang Kelua (urang Kalua) dari Tabalong dan orang Hulu Sungai lainnya mendiami daerah yang telah dirintis oleh orang Negara. Puak-puak suku Banjar ini akhirnya melakukan perkawinan campur dengan suku Dayak Ngaju setempat dan mengembangkan agama Islam di daerah tersebut.
Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau perjuangannya dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.
Suku Banjar di Jawa Tengah
Masjid-Kampung Banjar Semarang
Kampung Banjar, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara
Suku Banjar di Jawa Tengah hanya berkisar 10.000 jiwa, jadi tidak sebanyak di Jambi, Riau dan Sumatera Utara. Suku Banjar terutama bermukim di Kota Semarang dan Kota Surakarta. Di Semarang suku Banjar (dahulu) kebanyakan bermukim di Kampung Banjar di Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara, Semarang. Dahulu kampung ini merupakan wilayah kelurahan Banjarsari, Kecamatan Semarang Tengah yang telah dilikuidasi karenanya adanya penataan wilayah administrasif kota Semarang. Migrasi suku Banjar ke kota Semarang kira-kira pada akhir abad ke-19 dan bermukim di sebelah barat kali Semarang berdekatan dengan kampung Melayu (Ex. Kelurahan Mlayu Darat yang telah dilikuidasi). Di wilayah ini suku Banjar membaur dengan suku lainnya seperti suku Arab-Indonesia, Gujarat, Melayu, Bugis dan suku Jawa setempat. Keunikan suku Banjar di kampung ini , mereka mendirikan rumah panggung (rumah ba-anjung) seperti di daerah asalnya, tetapi sayang kebayakan rumah tersebut sudah mulai tergusur karena kondisi yang sudah tua maupun faktor alam (air pasang, rob) yang nyaris menenggelamkan kawasan ini akibat banjir pasang air laut. Sedangkan di Surakarta suku Banjar kebanyakan bermukim di Kampung Jayengan. Suku Banjar di Surakarta memiliki yayasan Darussalam, yang diambil dari nama Pesantren terkenal yang ada di kota Martapura. Kebanyakan suku Banjar di Jawa Tengah merupakan generasi ke-5 dari keturunan Martapura, Kabupaten Banjar. Tokoh suku Banjar di Jawa Tengah adalah (alm) Drs. Rivai Yusuf asal Martapura, yang pernah menjabat Bupati Pemalang dan Kepala Dinas Perlistrikan Jawa Tengah. Ia juga ketua Ikatan Keluarga Kalimantan ke-1, saat ini dijabat Bp. H Akwan dari Kalimantan Barat. Di samping itu ada pula Ikatan Keluarga Banjar di Semarang, yang diketuai H. Karim Bey Widaserana dari Barabai.
Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia
Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.
Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura, Banjar yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.
Keadaan mayarakat Kalimantan Selatan antara tahun 1900-1942 :
Pada tahun 1905 perlawanan terakhir para gusti (gelar bangsawan Banjar) ditumpas, tetapi sisa-sisanya masih mengadakan perlawanan kecil-kecilan yang cukup membahayakan Belanda. Kerja rodi (bahasa Banjar : erakan) dan pajak kepala yang dianggap sangat memberatkan, mengakibatkan dalam periode ini banyak sekali orang Banjar terutama dari Hulu Sungai mengungsi keluar Kalimantan Selatan pergi ke Sumatera dan Malaysia Barat. Terhadap tekanan rodi menimbulkan keresahan sosial dan perlawanan dari anak cucu orang sepuluh Amuntai, pemberontakan Nanang Sanusi (1914-1918), dan pemberontakan Gusti Barmawi di Kelua, Tabalong. Antara tahun 1914-1919 akibat perang dunia I, Kalimantan Selatan kekurangan beras yang luar biasa, hingga terkenal dengan nama "zaman beras larang" dan "zaman antri beras", hidup rakyat menjadi sangat susah sekali. Sejak tahun 1920-an, akibat rodi ini telah pindah banyak sekali penduduk Hulu Sungai ke daerah Sapat dan Tembilahan, Indragiri Hilir, di pantai timur Sumatera dan Malaysia. Kejengkelan rakyat terhadap segala pajak, landrente, pajak pasar, pajak yang dikenakan pada orang yang naik haji, dan kerja rodi (bahasa Banjar : erakan) pada masa itu juga telah diajukan keberatan-keberatan melalui organisasi Sarekat Islam maupun organisasi lainnya yang ada di daerah ini. Rakyat mengetahui bahwa otonomi dalam bentuk Gemeente raad yang diberikan pemerintah kolonial hanyalah untuk kepentingan orang-orang kulit putih semata. Dalam bidang pendidikan dirasakan tekanan-tekanan politik terhadap sekolah-sekolah swasta seperti Taman Siswa dan sejenisnya. Dalam bidang politik, partai-partai non koperasi atau bukan keduanya mengalami tekanan yang berat sehingga partai-partai non koperasi menjadi lumpuh. Demikian pula partai-partai penggantinya yang bersifat koperasi seperti Parindra dan Gerindo juga mengalami berbagai tekanan seperti yang dialami tokoh Parindra Kalsel, Ahmad Barmawi Thaib dan Hadhariyah M
Banyak suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak ( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah (Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan. Organisasi suku Banjar di Malaysia adalah Pertubuhan Banjar Malaysia
Suku bangsa Banjar diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).
Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura).
Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa.
Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.
Banjar Pahuluan
Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur.
Jadi meskipun kelompok suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri.
Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya.
Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya
Banjar Batang Banyu
Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah.
Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar.
Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.
Banjar Kuala
Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar.
Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju , yang seperti halnya dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan , banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam.
Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.
(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)
Inti Suku Banjar
Menurut Alfani Daud (Islam dan Masyarakat Banjar, 1997), inti suku Banjar adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya, sedangkan menurut Idwar Saleh justru penduduk asli suku Dayak (yang kemudian bercampur membentuk kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa Indonesia-nya).
Menurut Idwar Saleh (Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986): " Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton....Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan-etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya".
Selanjutnya menurut Idwar Saleh (makalah Perang Banjar 1859-1865, 1991): "Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia".
Maka dapat diambil kesimpulan bahwa Suku Banjar terbagi 3 subetnis berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku berdasarkan persfeketif kultural dan genetis yang menggambarkan masuknya penduduk pendatang ke wilayah penduduk asli Dayak:
1. Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
2. Banjar Batangbanyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
3. Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)
Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya (Kelompok Barito Barat) yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya (Kelompok Barito Timur) seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.
Agama Islam dan suku Banjar
Menurut Alfani Daud (1997:6):
"Islam telah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak berabad-abad yang silam. Islam juga telah menjadi identitas mereka, yang membedakannya dengan kelompok-kelompok Dayak yang ada di sekitarnya, yang umumnya masih menganut religi sukunya. Memeluk Islam merupakan kebanggaan tersendiri, setidak-tidaknya dahulu, sehingga berpindah agama di kalangan masyarakat Dayak dikatakan sebagai "babarasih" (membersihkan diri) di samping menjadi orang Banjar."
Menurut Irfan Noor dalam "Islam dan Universum simbolik Urang Banjar" bahwa : Masyarakat Banjar bukanlah suatu yang hadir begitu saja, tapi ia merupakan konstruksi historis secara sosial suatu kelompok manusia yang menginginkan suatu komunitas tersendiri dari komunitas yang ada di kepulauan Kalimantan. Selanjutnya menurutnya : Etnik Banjar merupakan bentuk pertemuan berbagai kelompok etnik yang memiliki asal usul beragam yang dihasilkan dari sebuah proses sosial masyarakat yang ada di daerah ini dengan titiuk berangkat pada proses Islamisasi yang dilakukan oleh Demak sebagai syarat berdirinya Kesultanan Banjar. Menurtnya pula : "Banjar" sebelum berdirinya Kesultanan Islam Banjar belumlah bisa dikatakan sebagai sebuah ksesatuan identitas suku atau agama, namun lebih tepat merupakan identitas yang merujuk pada kawasan teritorial tertentu yang menjadi tempat tinggal.
Suku Banjar di Kalimantan Timur
Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku Melayu, merupakan 15 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Suku Banjar Kaltim lebih banyak populasinya dibandingkan suku Kutai, maupun suku Dayak setempat. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara dan Jempang, Kutai Barat, Samarinda Ulu, Samarinda, Samarinda Ilir, Samarinda (Samarinda), Balikpapan, Tarakan dan di muara sungai Kelai, Berau.
Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau (ayahanda Puteri Petung) dari Kerajaan Kuripan (versi lainnya dari Kerajaan Bagalong di Kelua, Tabalong) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas (Kesultanan Pasir) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Organisasi Suku Banjar di Kalimantan Timur adalah Kerukunan Bubuhan Banjar-Kalimantan Timur (KBB-KT).
Suku Banjar di Kalimantan Tengah
Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak Bakumpai, Suku Dayak Sampit dan lain-lain. Perkampungan suku Banjar Kalteng terutama terdapat daerah kuala dari sungai Mentaya, Kotawaringin Timur dan sungai Seruyan, Seruyan misalnya desa Tanjungrangas dan Pematangpanjang.
Migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta'inbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama [[Pangeran Adipati Antakusuma.
Suku Banjar yang datang dari lembah sungai Negara (wilayah Batang Banyu) terutama orang Negara (urang Nagara) yang datang dari Kota Negara (bekas ibukota Kerajaan Negara Daha), kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan telah cukup lama mendiami wilayah Kahayan Kuala, Pulang Pisau, yang kemudian disusul orang Kelua (urang Kalua) dari Tabalong dan orang Hulu Sungai lainnya mendiami daerah yang telah dirintis oleh orang Negara. Puak-puak suku Banjar ini akhirnya melakukan perkawinan campur dengan suku Dayak Ngaju setempat dan mengembangkan agama Islam di daerah tersebut.
Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau perjuangannya dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.
Suku Banjar di Jawa Tengah
Masjid-Kampung Banjar Semarang
Kampung Banjar, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara
Suku Banjar di Jawa Tengah hanya berkisar 10.000 jiwa, jadi tidak sebanyak di Jambi, Riau dan Sumatera Utara. Suku Banjar terutama bermukim di Kota Semarang dan Kota Surakarta. Di Semarang suku Banjar (dahulu) kebanyakan bermukim di Kampung Banjar di Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara, Semarang. Dahulu kampung ini merupakan wilayah kelurahan Banjarsari, Kecamatan Semarang Tengah yang telah dilikuidasi karenanya adanya penataan wilayah administrasif kota Semarang. Migrasi suku Banjar ke kota Semarang kira-kira pada akhir abad ke-19 dan bermukim di sebelah barat kali Semarang berdekatan dengan kampung Melayu (Ex. Kelurahan Mlayu Darat yang telah dilikuidasi). Di wilayah ini suku Banjar membaur dengan suku lainnya seperti suku Arab-Indonesia, Gujarat, Melayu, Bugis dan suku Jawa setempat. Keunikan suku Banjar di kampung ini , mereka mendirikan rumah panggung (rumah ba-anjung) seperti di daerah asalnya, tetapi sayang kebayakan rumah tersebut sudah mulai tergusur karena kondisi yang sudah tua maupun faktor alam (air pasang, rob) yang nyaris menenggelamkan kawasan ini akibat banjir pasang air laut. Sedangkan di Surakarta suku Banjar kebanyakan bermukim di Kampung Jayengan. Suku Banjar di Surakarta memiliki yayasan Darussalam, yang diambil dari nama Pesantren terkenal yang ada di kota Martapura. Kebanyakan suku Banjar di Jawa Tengah merupakan generasi ke-5 dari keturunan Martapura, Kabupaten Banjar. Tokoh suku Banjar di Jawa Tengah adalah (alm) Drs. Rivai Yusuf asal Martapura, yang pernah menjabat Bupati Pemalang dan Kepala Dinas Perlistrikan Jawa Tengah. Ia juga ketua Ikatan Keluarga Kalimantan ke-1, saat ini dijabat Bp. H Akwan dari Kalimantan Barat. Di samping itu ada pula Ikatan Keluarga Banjar di Semarang, yang diketuai H. Karim Bey Widaserana dari Barabai.
Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia
Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda.
Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura, Banjar yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.
Keadaan mayarakat Kalimantan Selatan antara tahun 1900-1942 :
Pada tahun 1905 perlawanan terakhir para gusti (gelar bangsawan Banjar) ditumpas, tetapi sisa-sisanya masih mengadakan perlawanan kecil-kecilan yang cukup membahayakan Belanda. Kerja rodi (bahasa Banjar : erakan) dan pajak kepala yang dianggap sangat memberatkan, mengakibatkan dalam periode ini banyak sekali orang Banjar terutama dari Hulu Sungai mengungsi keluar Kalimantan Selatan pergi ke Sumatera dan Malaysia Barat. Terhadap tekanan rodi menimbulkan keresahan sosial dan perlawanan dari anak cucu orang sepuluh Amuntai, pemberontakan Nanang Sanusi (1914-1918), dan pemberontakan Gusti Barmawi di Kelua, Tabalong. Antara tahun 1914-1919 akibat perang dunia I, Kalimantan Selatan kekurangan beras yang luar biasa, hingga terkenal dengan nama "zaman beras larang" dan "zaman antri beras", hidup rakyat menjadi sangat susah sekali. Sejak tahun 1920-an, akibat rodi ini telah pindah banyak sekali penduduk Hulu Sungai ke daerah Sapat dan Tembilahan, Indragiri Hilir, di pantai timur Sumatera dan Malaysia. Kejengkelan rakyat terhadap segala pajak, landrente, pajak pasar, pajak yang dikenakan pada orang yang naik haji, dan kerja rodi (bahasa Banjar : erakan) pada masa itu juga telah diajukan keberatan-keberatan melalui organisasi Sarekat Islam maupun organisasi lainnya yang ada di daerah ini. Rakyat mengetahui bahwa otonomi dalam bentuk Gemeente raad yang diberikan pemerintah kolonial hanyalah untuk kepentingan orang-orang kulit putih semata. Dalam bidang pendidikan dirasakan tekanan-tekanan politik terhadap sekolah-sekolah swasta seperti Taman Siswa dan sejenisnya. Dalam bidang politik, partai-partai non koperasi atau bukan keduanya mengalami tekanan yang berat sehingga partai-partai non koperasi menjadi lumpuh. Demikian pula partai-partai penggantinya yang bersifat koperasi seperti Parindra dan Gerindo juga mengalami berbagai tekanan seperti yang dialami tokoh Parindra Kalsel, Ahmad Barmawi Thaib dan Hadhariyah M
Banyak suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak ( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah (Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan. Organisasi suku Banjar di Malaysia adalah Pertubuhan Banjar Malaysia
Label:
Budaya
|
0
komentar
KH Idham Chalid
01.26 | Diposting oleh
Unknown
Ulama & Politisi Pelaku Filosofi Air
KH Idham Chalid kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, seorang ulama dan politikus pelaku filosofi air. Dia seorang tokoh Indonesia yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Juga pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.
Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, ini seorang tokoh nasional, yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis.
Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor, ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon bahkan avonturir.
Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang kala membuat banyak orang salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.
Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH Idham Chalid yang berlatarbelakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.
Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984), itu berpandangan tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.
Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul "Idham Chalid: Guru Politik Orang NU" yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.
"Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia. (Hal 55)
Sebagai ulama dan politisi pelaku filosofi air, Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun dan pembawa kesejukan. Apresiasi ini sangat mengemuka pada acara peluncuran buku otobiografi: "Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah", di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 6 Maret 2008.
Buku otobiografi Idham Chalid itu diterbitkan Yayasan Forum Indonesia Satu (FIS) yang dipimpin Arief Mudatsir Mandan, yang juga anggota Komisi I DPR dari PPP, juga selaku editor buku tersebut. Idham Chalid sendiri tengah terbaring sakit di rumahnya Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan.
“Saya kira tidak ada tokoh yang bisa seperti beliau. Ketokohannya sangat menonjol, sehingga pernah memimpin partai politik pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP,” kata Wapres Jusuf Kalla mengapresiasi sosok Idham Chalid, saat memberi sambutan pada acara peluncuran buku tersebut.
”Beliau itu moderat, bisa diterima di ’segala cuaca’, berada di tengah, oleh sebab itu ia bisa diterima di mana-mana. Ia berada di tengah titik ekstrem yang ada,” ujar Kalla dihadapan sejumlah undangan, antara lain Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, dan sejumlah anggota kabinet dan DPR.
Menurut Jusuf Kalla, sikapnya yang moderat hanya bisa dijalankan oleh orang yang santun. "Hanya orang santunlah yang bisa bersikap moderat,” puji Jusuf Kalla untuk menegaskan bahwa Idham Chalid merupakan sosok ulama dan politisi yang moderat dan santun. Itulah sebabnya, ia bisa diterima di berbagai era politik dan kepemimpinan bangsa.
Menurut Wapres, jika berada di titik yang sama ekstremnya, maka selain demokrat, sosok politik orang yang menjalani itu sudah pasti santun. ”Karena itu, sikap yang santun bisa menjaga suasana kemoderatan,” katanya.
Idham Chalid yang memulai karir politik dari anggota DPRD Kalsel, seorang ulama karismatik, yang selama 28 tahun memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernah menjadi Wakil Perdana Menteri pada era pemerintahan Soekarno, Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto dan mantan Ketua DPR/MPR. Idham juga pernah menjadi Ketua Partai Masyumi, Pendiri/Ketua Partai Nahdlatul Ulama dan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Sementara itu, editor buku, Arief Mudatsir Mandan, mengemukakan, Idham Chalid satu-satunya Ketua Umum PBNU yang paling lama dan bukan ”berdarah biru” NU. Menurutnya, selama kepemimpinan Idham, NU tidak pernah bergejolak. Kendati ia sering dinilai lemah, tetapi sebenarnya itulah strateginya sehingga bisa diterima berbagai zaman,” ujar Arief Mudatsir Mandan. ►ti/mangatur l paniroy
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
BIODATA
Nama:
KH Idham Chalid
Lahir:
Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921
Agama:
Islam
Karir:
- Wakil Perdana Menteri II Kabinet Ali Sastroamidjojo II (24 Maret 1956 - 14 Maret 1957)
- Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Sosial pada era pemerintahan Soeharto
- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), 1973-1978
- Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA), 1978-1983
Organisasi:
- Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), 1955-1984
- Ketua Partai Masyumi
- Pendiri/Ketua Partai NU, 1952
- Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Penghargaan:
- Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo
Alamat Rumah:
Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan
Langganan:
Postingan (Atom)

